Hari Tata Ruang Nasional

Tidak banyak yang tahu apa itu Hari Tata Ruang Nasional. Wajar saja karena Hari Tata Ruang Nasional baru diperingati empat tahun belakangan ini. Tata Ruang Nasiona sudah berada dibawah payung hukum, yakni dengan UU No 26 Tahun 2007. 

Melalui peraturan tersebut, pemerintah berupaya mendorong pemanfaatan ruang di Indonesia sesuai dengan kapasitas daya dukungnya. Meskipun jarang diperhatikan masyarakat, tapi sebetulnya Tata Ruang ini sangat penting dalam membangun Indonesia supaya menjadi seimbang, terutama yang ada di Kota dengan yang di Desa. Serta terjadi kesetaraan antara keduanya. 

Namun nyatanya tidak demikian. Biasaya terdapat perbedaan masalah yang ada di Kota maupun yang ada di Desa. Di Kota yang pembangunan infrastrukturnya baik, biasanya tingkat keacuh tak acuhnya tinggi. 

Maka tidak jarang banyak sekali kesemrawutan dijalan raya. Bisa ditengok berapa puluh mobil dan motor tidak taat peraturan lalu lintas. Wajah Kota-Kota besar di Indonesia kacau karena setiap hari mempertontonkan keadaan yang demikian.
Kurangnya lahan hijau mengekor dibelakangnya. Kesumpekan suasana Kota dikarenakan minimnya lahan hijau. Lahan yang sebetulnya vital bagi para penduduknya. Idelanya ruang terbuka hijau untuk ukuran sebuat Kota adalah 30 persen. 

Dalam kasus ini hendaknya pemerintah yang bersangkutan mengkaji kembali dalam hal mempermudah ijin membangun pusat perbelanjaan atau moll. Secara kapitalis memang menguntungkan namun secara sosialis tidak. Pembangunan pusat perbelanjaan hanya akan memperburuk Indonesia sebagai yang berpolusi didunia, terutama Jakarta.
Berbeda dengan yang ada di Kota, permasalahan yang ada di Desa terkait infrastruktur. Jalanan yang ada di Desa banyak yang berlubang. Banyak sekali jalanan yang belum diaspal, sekalinya sudah banyak yang hancur. 

Salah satu penyebabnya mungkin kontur tanah yang tidak cocok jika diaspal. Namun apapun itu pembangunan infrastruktur harus adil dan seimbang. Jangan sampai hanya Kota saja yang diperhatikan, sementara Desa diabaikan. Namun ada faedah dari ketidaksempurnaan Tata Ruang Desa terkait jalanan yang rusak. Tingkat kecelakaan di Desa amatlah minim. Ini mungkin terjadi lantaran tingkat kehati-hatian warga sangatlah tinggi.

Baca Juga:
Kembalikan Citra Guru
Aku Menjadi Kita
Ketika Kebodohan Menjadi Tuhan
Pahlawan Untuk Diri Sendiri
Ganefo. Sejarah Dahsyat Yang Terlupakan


Juga tidak kalah penting adalah Perguruan Tinggi. Lagi-lagi infrastrukutur yang menjadi keladinya. Efek ketimpangan Tata Ruang yang tidak seimbang ini berpengaruh disektor pendidikan. Berapa banyak pemuda-pemuda yang harus merantau untuk menuntut ilmu di Kota, dikarenakan tidak adanya Perguruan Tinggi. 

Perguruan Tinggi di Kota padahal sudah banyak tapi toh tetap laku juga, meskipun tidak favorit. Kenapa tidak dipindahkan saja di Desa-Desa yang membutuhkan Perguruan Tinggi. Di Desa jauh lebih membutuhkan, terutama yang berotak Habibie tapi semiskin kuli. Desa sangat membutuhkan wadah untuk mengembangkan bakat dan minat, tidak hanya di Kota.
Solusi untuk pemerintah dihari Tata Ruang ini adalah keseimbangan infrastruktur antara di Kota dan di Desa. Sesuai yang diamanatkan Pancasila, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Memang perbedaan antara Kota dan Desa sangat signifikan. Akan tetapi jika semua sesuai porsi maka akan sangat maksimal pertumbuhannya. Tidak kurang dan tidak lebih. Karena suatu yang berlebihan itu tidak baik. Tertawa berlebihan pun bisa menyebabkan kematian. Apalagi  polusi yang berlebihan.
Masyarakat harus sadar diri jika kelak pemerintahan yang baru bisa memfasiliasi dengan baik. Kita yang konon sebagai rasa diera demokrasi ini harus bisa menunjukkan kewibawaannya. Segara fasilitas umum yang menyangkut Tata Ruang Nasional hendaknya dijaga betul-betul. 

Kalau perlu kita turut membantu dalam pelaksanaannya. Jangan menunggu pemerintah. Kita tunjukan jiwa nasionalisme. Jiwa patriotisme yang mulai dihidupkan lagi oleh Presiden Joko Widodo dengan revolusi mental nya.
Hingga akhirnya Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia bukan hanya isapan jempol belaka. Dihari Tata Ruang Nasional ini mari, menata ulang inftastruktur dan manusianya. Jangan tunggu perubahan itu terjadi, tapi jemputlah perubahan itu sendiri dengan tekad dan semangat juang. 

Karena Tuhan tidak akan mengubah nasip suatu kaum, kecuali kaum tersebut mau mengubahnya nasip sendiri.        

Penulis: Fajar Arianto

Ganefo. Sejarah Dahsyat Yang Terlupakan

Games Of New Emerging Force (Ganefo) ialah puing-puing sejarah yang sudah terlupakan. Tidak banyak yang tau apa itu Ganefo. Padahal sebenarnya, Ganefo adalah tonggak sejarah olahraga Indonesia. Kala itu, tepatnya 10 Nopember 1963, dikawasan Gelora Bung Karno rakyat sangat antusias menggelar pembukaan Ganefo. 

Ganefo adalah kejuaraan olahraga ala negara- negara anti imperiaslisme yang diikuti oleh 2.200 atlit dari 48 negara (ada juga yang menyebut 51 negara) dimana berasal dari Asia, Afrika, Amerika Latin dan Eropa Timur. Ganefo sendiri sering disebut Olympiade Tandingan karena jumlah peserta dan cabang olahraganya sangat banyak, hampir menyaingi Olympiade Internasional. Ganefo mengambil Semboyan, Maju Terus Pantang Mundur.

Sedikit mengulas latar belakang Ganefo. Untuk pertama kalinya Indonesia berani berkonsep dalam memandang Dunia. Bung Karno menyatakan tantang Nefo dan Olfedo. Nefo ialah The New Emerging Force mewakili kekuatan yang sedang tumbuh, seperti negara-negara Asia, Afrika, Amerika Latin yang berusaha keluar dari cengkraman neo-kolonialisme, imperialisme kemudian membentuk tata Dunia baru tanpa exploitation. 

Sedangkan Oldefo ialah The Esthablished Force, mewakili negeri-negeri imperialis dan kekuatan lama yang semakin dekaden. Ketika itu Bung Karno yakin bahwa selain untuk kesehatan jasmani, olahraga juga dapat membangun mental dan rohani yang efektif. Beliau juga meyakini jika olahraga juga merupakan sarana untuk membangun bangsa yang berkarakter.
Keseriusan Bung Karno ini dipertegas dengan dibentuknya kurikulum di Sekolah-Sekolah dan menggecarkan kegiatan olahraga ditangan rakyat. Selain itu Bung Karno berniat menjadi ajang kejuaraan olahraga untuk memajukan nama Indonesia di Dunia Internasional, padahal saat itu Indonesia sudah mengikuti Asian Games, tapi tidak kata Bung Karno. 

Dengan lantang beliau katakan, kita harus mengangkat kita punya nama. Nama yang tiga setengah abad tenggelam dalam kegelapan. Tegasnya. Setelah mengalahkan Pakistan dalam pemungutan suara, Indonesia berhasil menjadi tuan rumah Asian Games-IV. Karena ketiadaan biaya Indonesia meminjam 105 juta dollar AS kepada Uni Soviet dan akan dibayar dengan karet alam dalam tempo dua tahun.
Usaha Bung Karno tidak sia-sia. Indonesia berhasil membangun  kompleks olahraga terbesar se Asia Tenggara dengan stadion berkapasitas 100.000 penonton. Stadion renang, stadion Madya, Stadion Tenis dan Gedung Basket selama 2 setengah tahun. Diajang Asia Games itu Indonesia berhasil menunjukkan tajinya dengan menempati urutan kedua perolehan medali setelah Jepang. Sementara itu karena sikap Indonesia yang keras, menentang kepesertaan Israel dan Taiwan maka Komite Olympiade Internasional (IOC) mencabut sementara keanggotaan Indonesia. Indonesia menganggap organisasi tersebut sebagai kepanjangan tangan dari neo-kolonialisme dan imperiaisme.
Indonesia semakin tersentak karena hal itu. Bung Karno memerintahkan Maladi selaku Menteri Olahraga untuk mengundang  12 negara untuk menghadiri Ganefo di Jakarta. Diantaranya RRT, USSR, Pakistan, Kamboja, Irak, Vietnam Utara dan Mali. Dalam forum itu Indonesia menegaskan arti pentingnya melawan Olyimpiade Internasioal yang sejatinya adalah alat Imperialisme. Dan saat itulah Ganefo pertama diadakan. 
Setelah mengalami perjuangan yang berat akhirnya Indonesia berhasil menempati urutan ketiga setelah RRT dan USSR dengan perolehan 21 emas, 25 perak dan 35 perunggu. Hebatnya Ganefo dibanding Olympiade Internasional adalah Ganefo dibasiskan untuk memperkuat persahabatan, persaudaraan serta solidaritas, sedangkan Olympiade Internasional hanya berbasis kompetisi murni mencari juara.

Baca Juga:
Aku Menjadi Kita
Ketika Kebodohan Menjadi Tuhan
Pahlawan Untuk Diri Sendiri


Begitulah sejarah dahsyatnya ganefo yang sekarang sudah terlupakan. Sejarah yang menunjukkan gagahnya Indonesia dimata Dunia. Padahal semua tau betapa terpuruknya Indonesia kala itu. Pelajaran yang bisa dipetik dari sejarah yang terlupakan ini adalah kemartabatan ditengah keterpurukan. 

Jati diri indonesia muncul dengan gagahnya ketika menyaingi Olympiade Internasional dengan Ganefo nya. Keadaan yang terus ditekan malah membuat roh perubahan muncul. Dalam hal ini pemimpin negara mempunyai andil besar dalam menggerakkan rakyatnya untuk terus maju tanpa rasa takut. Gertakan tidak membuat nyali Bung Karno menciut sedikitpun.
Semoga jiwa dan roh kepemimpinan Bung Karno bisa terefleksi kepada penerusnya, Presiden Joko Widodo. Pun juga dengan semangat patriotik rakyat jaman dulu, semoga bisa terefleski juga kepada rakyat Indonesia diera sekarang. Begitu juga dengan para atlitnya yang selalu semangat mengharumkan nama baik negara. Jasmerah (Jangan sekali-kali Melupakan Sejarah).   

Penulis: Fajar Arianto

Menghilangkan Lingkaran Setan Dengan Kelembutan

Konon, ilmu pedang yang tertinggi adalah ketika seseorang mampu menebas kapas tanpa mempengaruhi arah geraknya. Jika dilogika memang aneh. Bagaimana mungkin puncak kekuatan adalah kelembutan, bukan kekerasan. Ada lagi dalam dunia persialatan. Pendekar kelas teri jika bertarung membutuhkan senjata. Sedangkan yang Master, cukup dengan kedua tangannya. Sekali lagi, kelembutan menjadi puncaknya karena tanpa s3njata mustahil mengalahkan orang.
Begitu juga yang terjadi pada saat MOS (Masa Orientasi Siswa) dan Ospek. Jika masih menggunakan kekerasan, berarti orang itu berilmu rendah. Rendahnya ilmu menandakan rendahnya moral. Padahal jika moral rendah sudah dipastikan berkelakuan buruk. MOS dan Ospek yang sejatinya untuk memperkenalkan sekolah beserta seluruh yang ada didalamnya, malah menjadi ajang unjuk pamer kekuasaan dan kekuatan. 
Sungguh disayangkan bukan. Sebagai contoh di tahun 2013, Anindya Ayu Puspita siswi baru SMK N 1 Bantul meninggal karena kelelahan mengikuti kegiatan MOS, padahal hanya tidak membawa pakaian olahraga. Ada lagi Wisnu AnjarKusumo (17) mengenasan, tubuhnya babak belur lebam kebiruan, mahasiswa Sekolah Tinggi Sandi Negara itu diduga korban kekerasan saat sorientasi kampus. Harus ada peran nyata agar kasus semacam ini tidak terulang kembali.  
Peran serta Pendidik dalam hal ini sangat fundamental. Pasalnya, keduanya merupakan orang yang disegani ditempat, dimana MOS dan Ospek “nakal” dilakukan. Memberi nasehat, saran dan masukan adalah barang wajib. Langkah selanjutnya adalah memberi suri tauladan yang baik. Menunjukkan kepada anak didik arti dari sebuah kelembutan. Terakhir mengevaluasi. Jika terjadi pelanggaran, tindak yang tegas.
Kedua, peran orang tua. Ada dua istilah yang tepat. Satu, anak terlahir bagai kertas putih, orang tua yang pertama memberi warna. Dua, buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Bagaimana cara mendidik anak dan bagaimana cara memberi contoh adalah poin pentingnya. Kedua elemen tersebut akan membentuk tabiat anak. Bermoral atau tidak. Berkelakuan baik atau buruk.
Selanjutnya lingkungan. Jika orang tua yang pertama memberikan warna maka lingkungan yang kedua. Moral dan kelakuan bisa sewaktu-waktu berubah karena pengaruh lingkungan, terutama teman. Kebanyakan orang sekarang lebih suka berkumpul bersama teman dibanding dengan keluarga. Mengapa ?. Karena teman bisa lebih peka dan mengerti dari pada keluarga. Tidak buruk, hanya saja perlu diingat, tidak ada orang tua yang tega menjerumuskan anaknya.
Terakhir media. Kasar, galak dan suka menghukum adalah beberapa hal yang media tv ajarkan. Sinetron dengan lihai memanipulasi dengan lembut hal-hal diatas menjadi sangat menarik. Namun apa benar demikian. Jawabannya jauh panggang dari api. Padahal sudah jelas-jelas jika berbuatan itu salah.
Minimnya contoh yang baik menjadi salah satu masalahnya. Tidak ada cara lain kecuali menumbuhkan kesadaran para senior-senior. Kesadaran bahwa kekerasan itu buruk, baik perkataan maupun perbuatan. Dimulai dari diri sendiri dengan membangun moral dan kelakuan yang baik. Tenamkan jika balas dendam hanya akan memperburuk generasi-generasi dimasa mendatang.


Baca Juga:
Kembalikan Citra Guru
Aku Menjadi Kita
Ketika Kebodohan Menjadi Tuhan


Indonesia Bebas Kekerasan
Semua pihak harus bisa berpartisipasi agar bisa keluar dari lingkaran setan yang bernama balas dendam. Balas dendam hanya akan membentuk prahara baru yang bisa jadi, semakin buruk. Hanya dengan kelembutan hati dan kesadaran sikap, anak didik bisa keluar dari lingkaran ini. dimulai dari pribadi masing-masing untuk merubah itu semua. 
Untuk mencapai kelembutan hati dan kesadaran sikap kita butuh teman yang bernama iman. Iman akan selalu mengingatkan jika ada kesalahan. Iman akan selalu menuntun kejalan lurus dan masa depan cerah. Bulan ramadhan adalah momentum yang pas untuk memperkuat iman. Karena seringnya diuji, otomastis iman semakin kuat.
Hingga pada suatu ketika, peserta didik tidak lagi mengenal apa itu kekerasan dan hukuman. Yang ada hanya kebersamaan dalam sebuah keberagaman. Tercipta sebuah sistim pendidikan yang kondusif berbasis kelembutan hati. Senior dan junior tidak lagi mengenal kasta seperti yang selama ini terjadi. Dengan peduan IQ, EQ dan SQ yang sempurna akan melahirkan sarjana sarjana bertaraf internasional. Bukan sarjana muda yang Bang Iwan Fals nyanyikan.

Penulis: Fajar Arianto
  

Baca Juga:

Ketika Kebodohan Menjadi Tuhan

Anak merupakan aset yang paling berharga di Indonesia. Karena anak memiliki imajinasi yang kuat, dimana menurut Einstein adalah segalanya. Einstein mengatakan “logika bisa mengantarkanmu dari A ke B, tetapi imajinasi bisa mengantarkanmu dari A ke tak terhingga.” Orang bisa ke bulan awalnya berkat imajinasi. Segala macam teknologi yang ada dimuka Bumi Emaknya adalah imajinasi.
Ketika Kebodohan Menjadi Tuhan

Sejalan dengan quotes Einstein diatas. Kebanyakan kita, sekolah-sekolah lebih mengutamakan logika. Segala macam pelajaran dijejali kedalam otak anak yang justru mematikan imajinasi. Berangkat dari sekolah pukul 7 dan pulang pukul 12, belum lagi ada ekstrakulikuler dan les. Otak anak diperas sedemikian rupa, hanya demi kalimat “kamu harus pinter nak, biar papa dan mama bangga sama kamu.” Celakanya, kata “pintar” sendiri di Indonesia masih dalam arti sempit. Para orang tua menganggap anaknya pintar jika sudah mahir sains seperti, matematika, kimia dan fisika. 


Baca Juga:


Penyeimbangan logika dan imajinasi mutlak dilakukan. Menyederhanakan mata pelajaran yang banyak adalah salah satu caranya. Jangan membebani anak dengan segudang pelajaran yang bisa mematikan imajinasi mereka. Dunia anak memang Dunia bermain. Jadi, jika anak lebih suka bermain ketimbang belajar itu wajar. Tugas para orang tua dan guru adalah bagaimana memodivikasi belajar sebagai sebuah permainan. Mengubah midset anak, manakala mereka sedang bermain itu sebetulnya mereka sedang belajar. 
Satu hal yang penting selain menumbuhkan imajinasi adalah memuji. Memuji adalah suatu motivasi besar bagi anak sekaligus yang paling disenangi. Sebaliknya, hal yang paling dibenci anak adalah memaki. Jika anak berbuat salah dan para orang tua atau guru memarahinya, itu tindakan salah besar. 

Bukankah Rosullulloh menyuruh umatnya untuk tidak marah. Lebih banyak dipuji orang, si anak akan semakin suka dan termotivasi. Jika hal itu dilakukan, maka potensi anak akan semakin berkembang.
Sejalan dengan hal diatas, memberikan penghargaan kepada anak berprestasi adalah salah satu cara efisien. Banyak anak-anak Indonesia yang sukses menjuarai lomba dikancah Internasional. Sayangnya mereka kurang terkenal, kurang mendapat apresiasi dari masyarakat. Anak-anak yang membawa harum nama Indonesia itu kalah dengan anak-anak yang menang lomba kontes menyanyi dan kontes kecantikan. 

Padahal jebolan anak-anak kontes tersebut kelakukannya ketika diatas panggung cukup buruk. Bayangkan saja, mereka dipaksa meniru artis-artis dewasa yang notabene berpakaian tapi sebetulnya seperti tidak berpakaian. Tingkah polah mereka menjadi tidak beradap karena terlalu centil, genit dan alay. Sepertinya memang benar jika kebodohan lebih dihargai di Indonesia. Jika ingin terkenal, bertingkah bodoh saja.

Pro Anak 
Peran orang tua dan guru dituntut lebih hyperaktif dalam kasus ini. Beliau-beliau harus tahu potensi anak yang sebenarnya. Setiap anak memiliki potensi masing-masing. Orang tua dan guru diharapkan mengawal terus tumbuh kembang anak. Jika anak berbuat salah, jangan langsung dimarahi. Beri mereka arahan dan bimbingan dengan tidak terkesan menggurui. Karena sesungguhnya orang tua dan guru mempunyai fungsi ganda, yaitu sebagai teman.
Presiden terpilih dituntut tidak hanya pro buruh, pro rakyat melainkan juga pro anak. Jika anak memiliki daya kritis diatas rata-rata, pasti mereka berdemo menuntut contoh yang baik. Anak sedang mengalamai krisis suri tauladan akut. 

Setiap harinya dijejali acara-acara yang justru membodohkan mereka. Membuat mereka men Tuhankan kebodohan dari pada kepintaran. Membuat mereka men Tuhankan kontroversi dibanding prestasi. Jadi jangan salahkan anak-anak Indonesia jika kelakuan mereka kurang baik. Mental mereka bukan penjuang melainkan pecundang. 
Anak-anak Indonesia memang belum sepenuhnya merdeka. Meraka dijajah musuh dalam selimut. Dimana penjajahnya adalah orang dewasa itu sendiri. Mari tengok acara tv, begitu mudahnya orang dewasa itu mendapatkan uang dengan melakukan kebodohan, berdandan aneh, bertingkah konyol. Apa saja akan mereka lakukan, asalkan mendapat uang. 

Si anak yang menonton acara tersebut senyum-senyum mencerna racun yang orang dewasa sebarkan. Ketika kebodohan menjadi Tuhan, harga diri digadaikan, ketika kebodohan menjadi Tuhan, nasib bangsa terabaikan, dan jika kebodohan menjadi Tuhan, tunggulah kehancuran.

Baca Juga:
Menuju Mudik Sejati
Kembalikan Citra Guru

Aku Menjadi Kita

Penulis: Fajar Ariyanto

Diri Kita Adalah Penjajah

HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh pada (Minggu, 17/8) kemarin disambut suka cita oleh seluruh lapisan masyarakat. Antusisme masyarakat ditunjukan dengan memasang bendera dan beragam lomba yang bertujuan untuk mempereret kebhinekaan. Ditengah hingar bingar dan suka cita rakyat Indonesia ada beberapa masalah yang patut dikritisi. Masalah ini sebenarnya sudah meradang beberapa tahun yang lalu. Yaitu hilangnya roh keteladanan bagi pemuda Indonesia. Suri tauladan menjadi langka pasca 69 tahun yang lalu.

HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh pada (Minggu, 17/8) kemarin disambut suka cita oleh seluruh lapisan masyarakat. Antusisme masyarakat ditunjukan dengan memasang bendera dan beragam lomba yang bertujuan untuk mempereret kebhinekaan. Ditengah hingar bingar dan suka cita rakyat Indonesia ada beberapa masalah yang patut dikritisi. Masalah ini sebenarnya sudah meradang beberapa tahun yang lalu. Yaitu hilangnya roh keteladanan bagi pemuda Indonesia. Suri tauladan menjadi langka pasca 69 tahun yang lalu.

Memberi keteladanan bukan hanya tugas orang tua. Melainkan tugas semua makhluk yang bergelar manusia. Untuk itu marilah kita salahkan diri kita sendiri yang belum bisa berbuat banyak terhadap bangsa dan Negara ini. Jika muhasabah sudah dilakukan akan lebih mudah kita mencari musababnya, musabab mengapa pemuda Indonesia tidak maju-maju. Beberapa hal berikut mungkin bisa menjadi referensinya. Pertama, kurangnya rasa memiliki terhadap Indonesia. Kedua, cenderung mengikuti budaya asing. Selanjutnya, menginginkan perubahan, namun enggan berubah. Terakhir mentalitas pemuda.


Baca Juga:


Kurangnya rasa memiliki terhadap tanah air tercinta ini memang bukan rahasia umum lagi. Kita seolah apatis dengan masalah yang terjadi di Indonesia. Banyaknya kasus, terutama kasus korupsi adalah penyebab utamanya. Sebagai warga Negara yang baik, melihat masalah sebaiknya ditinjau dari berbagai sudut pandang. Misalnya saja dalam kasus korupsi yang ada dipemerintahan Pak SBY. Memang, dari satu sisi pemerintahan tersebut banyak petinggi negeri yang korup. Tapi disisi lain, Pak SBY sudah memuhi janjinya jika terpilih lagi menjadi presiden , yaitu pemberantasan korupsi tanpa pandang bulu. Kebohongan memang manis dan kejujuran memang pahit. Meski begitu Pak SBY sabar menghadapi rakyatnya.
Kurangnya rasa cinta terhadap Indonesia melahirkan kecintaan terhadap bangsa lain, seperti budaya dan produknya. Kecederungan terhadap asing ini sangat terlihat diberbagai sektor. Yang paling terlihat adalah fashion. Pemuda Indonesia lebih tertarik menggunakan produk luar dari pada produk bangsa sendiri. Jika sudah menggunakan produk luar, mau tidak mau juga akan ikut budayanya juga. Sebagai contoh dalam fenomena K-Pop. K-Pop bukanlah budaya kita tapi sangat digandrungi, lebih dari kecintaannya terhadap pakaian adat. Padahal kita punya pakaian adat yang jelas-jelas bisa membedakan mana pria dan mana wanita.
Jika kedua hal itu sudah menjamur dan pemuda sudah bosan, biasanya mereka berkoar-koar menginginkan perubahan. Parahnya, pemerintah yang disalahkan atas ketikamajuan hidup mereka. Caranya menginginkan perubahan pun beragam mulai dari berdemo hingga merusak fasilitas umum. Contoh-contoh buruk semacam inilah yang menyebabkan generasi berikutnya ikut-ikutan. Remaja SMP dan SMA menangkap bahwa tindakan semacam itu adalah tindakan seorang naionalisme sejati. Bagi mereka nasionalisme adalah kekerasan. Nasionalisme adalah melawan pemerintahan.
Bagitulah mental pemuda Indonesia sekarang. Seenaknya sendiri namun minta disantuni. Hidup sejahtera sesuai hawa nafsunya. Tidak heran jika wajah Indonesia seperti sekarang ini. tidak punya daya saing dengan dengan bangsa lain. Sekalinya ada, kurang terkenal. Kalah saing dengan selebritis pembuat kontroversi. Karena hal bodoh semacam itulah banyak pemuda yang banting stir menjadi selebritis. Karena menjadi selebritis kebodohan mereka lebih diakui. Bukan hanya diakui melainkan dihargai, dipuja-puja dan juga banyak uang. Kalah terkenal dengan Nelson Tansu Lemas, Khoiril Anwar dan Muhammad Arif Budiman.
Kesmimpulan sederhana dari masalah diatas adalah bangsa kita dijajah oleh diri kita sendiri. Yang membuat Indonesia masih terjajah padahal sudah merdeka adalah rakyatnya sendiri. Diri kita adalah penjajah ulung, lebih ulung dari Belanda dan Jepang. Karena metode dan strategi penjajahan terkesan nikmat hingga kita sendiri tidak sadar kalau sedang di jajah. Memang benar sabda Rosululloh, jika jihat terbesar adalah melawan diri sendiri.

Aku Menjadi Kita

Hari raya Idul Adha membawa berkah dan hikmah bagi yang merayakan. Membawa berkah karena untuk warga ndeso seperti saya ini bisa makan daging sepuasnya. Serta hikmah, karena jika ditijau dari beberapa sudut, sungguh hari Raya Kurban terkandung banyak sekali pelajaran terutama bagi para birokrasi dan politisi. Jiwa ke-aku-aku-an mereka belakangan ini semakin terlihat belakangan ini. yang sedang hangat tentu saja pada pemilihan Ketua DPR dan MPR.

ari raya Idul Adha membawa berkah dan hikmah bagi yang merayakan. Membawa berkah karena untuk warga ndeso seperti saya ini bisa makan daging sepuasnya. Serta hikmah, karena jika ditijau dari beberapa sudut, sungguh hari Raya Kurban terkandung banyak sekali pelajaran terutama bagi para birokrasi dan politisi. Jiwa ke-aku-aku-an mereka belakangan ini semakin terlihat belakangan ini. yang sedang hangat tentu saja pada pemilihan Ketua DPR dan MPR.

Jauh berabat-abat yang lalu “kurban sejati” sudah diteladankan oleh Nabi Ibrahim As. Manakala beliau menanti-nanti putra pertamanya selama berpuluh-puluh tahun yang bernama Ismail, dengan hak prerogratifnya Alloh, Dia menyuruh Sang Nabi untuk menyemb3lihnya. Perintah itu pastiah bukan tanpa alasan. 

Pasalnya saat itu kasih sayang Ibrahim kepada putranya amatlah besar. Tentu saja Alloh tidak akan membiarkan hal semacam itu terjadi. Karena terlalu mencintai sesuatu yang bersifat fana tidak dibenarkan oleh Nya. Pada akhir cerita Alloh akhirnya tidak sampai hati melihat Ibrahim terisak-isak dan Dia menggantinya dengan kambing.
Jika kita menganalogikan kisah tersebut dengan jaman sekarang, umpama kita adalah Ibrahim, Ismail adalah harta dan tahta, sedangkan kambing adalah kebahagiaan betapa beruntungnya kita punya Alloh. Banyak dari kita yang pontang-panting kerja untuk mencari harta dengan berbagai alasan. Dan kebanyaka orang alasanya untuk hidup senang, kemudian mereka mendapatkannya. 

Dengan uang mereka merealisasikan alasannya tanpa memperdulikan siapa Sang Maha Pemberi harta. Tentu saja Alloh Cemburu, lebih jauh lagi mungkin tersinggung karena hampir disetarakan derajatnya oleh harta. Maka dari itu Alloh memperingatkan manusia dengan berbagai masalah dan ujian yang tidak pernah absen kepada Indonesia ini. parahnya, kecemburuan Alloh disalahartikan sebagai kemarahan yang meledak-ledak dan Alloh sudah pesimis terhadap kita yang bergelar “manusia.”
Seyogyanya kita patut bersyukur. Karena dengan kecemburuanNya kita disayang, karena kecemburuanNya kita masih dipersulahkan untuk untuk bertobat, juga karena kecemburanNya kita masih mendapat signal untuk masuk surga. Sungguh masih terasa aneh jika menafsirkan kecemburuan itu sebagai sebuah amarah. Justru akan terasa lebih aneh jika masalah itu tidak datang, sementara para manusia terus saja berbuat salah. Pertanyaan yang patut disematkan adalah, apakah Alloh masih sayang dan peduli terhadap kita ?.
Mari berlogika dasar, cinta itu membutuhkan pengorbanan. Pengeborbanan disini bisa diartikan merelakan sesuatu yang baik untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Seperti contoh Nabi Ibrahim tadi yang hendak menyemb3lih putra semata wayangnya. Beliau mengorbankan sesuatu yang baik (anaknya) untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik (ridho Alloh).
Andai saja masyarakat Indonesia mempunyai jiwa kurban sejati dalam dirinya, pastilah akan maju Indonesia. Ketika aku bertransformasi menjadi kita, tidak ada lagi perpecahan, tidak ada lagi kekerasan dan tidak ada lagi perebutan kekuasaan. 

Sulit untuk melakukan semua itu ditengah majemuknya rakyat Indonesia dan ditengah banyaknya penganut kapitalisme. Paham kapitaslisme sungguh tidak cocok untuk Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Terbukti dengan makin jauhnya kesenjangan antara si kaya dan si miskin.
Sejalan dengan hal diatas. Sejenak mari renungkan sabda Kanjeng Nabi Muhammad. “Makanlah selagi kalian lapar, dan berhentilah sebelum kenyang.” Jika ditelisik lebih jauh, sabda Nabi bukan saja untuk para pelaku makan. Melainkan juga untuk pelaku pencari harta. 

Lebih jauh lagi menurut Cak Nun, makan direflesikan sebagai mencari harta dan berhenti sebelum kenyang diasumsikan perintah untuk berhenti mencari harta. Mancari harta itu secukupnya saja karena harta tidak dibawa ke alam kekekalan. Harta hanya sebagai alat untuk dekat dengan Alloh. Bukan jauh dari Alloh, apalagi menyetarakannya.
Berkurban memang tidak difatwa wajib. Berkorban hanya kesadaran makhluk yang bernama manusia untuk menjalankan tugas sejati dari-Nya, sebagai kholifah (pemimpin). Kita semua adalah pemimpin, namun alangkah beruntungnya kita karena masih memimpin keluarga, minimal diri sendiri. 

Bagaimana dengan para pemimpin birokrasi kita yang memimpin ratusan ribu orang. Betapa banyak yang harus mereka kurbankan. Mulai dari pikiran, waktu, tenaga dan lain sebagainya. Karena jasa pengorbanan yang luar biasa itu pantaslah jika para pejabat itu menggunakan fasilitas mewah seperti mobil dan rumah yang mana uang itu berasal dari rakyat. 

Penulis: Fajar Arianto

Baca Juga:

Pahlawan Untuk Diri Sendiri

'Pahlawan'. Sebuah kata yang apabila mendengar langsung terpikir pemberani, gagah, kuat dan bermental baja. Kurang tepat rasanya jika dihari Pahlawan hanya kita kenang namun tidak diilhami perjuangannya. Berbagai upaya telah para Pahlawan lakukan untuk negeri ini. 10 Nopember 1945 silam lebih tepatnya. Seorang pemuda luar biasa yang bernama Bung Tomo memporak-porandakan Belanda dan Inggris. Dengan 3 kata yang melegenda. Merdeka atau Mati. Apabila kata itu diucapkan oleh pemuda sekarang lain ceritanya. Mungkin malah akan ditertawakan. Tapi ini Bung Tomo. Dengan segala pengorbanan dan integritas. Didikasinya yang patut diinspirasi generasi penerusnya. 
Pahlawan Untuk Diri Sendiri

Tidaklah usah jauh-jauh. Kita cukup menjadi Pahlawan untuk diri kita sendiri. Seperti kata Rosul, jika perang terbesar adalah perang melawan diri kita sendiri. Bung Tomo pun juga demikian sewaktu berperang melawan penjajah. Beliau tidak serta merta memikirkan dirinya sendiri. Yang ada disetiap kepala beliau adalah Negara. 

Dengan semangat yang luar biasa hebat beliau mengatakan. Merdeka atau Mati. Tiga kata yang membuat semangat jihat bela Negara arek-arek Surabaya memuncak. Nyawapun seperti sudah tidak ada harganya bagi beliau dan kawan-kawannya. Hanya demi merobek bendera biru di Hotel Yamato
Yang perlu digaris bawahi adalah hilangnya jiwa egosentris dalam sanubari para Pahlawan. Padahal itu susah sekali untuk diterapkan. Lantas mengapa mereka bisa menghilangkannya. Padahal kita semua tahu, mereka tidak berpendidikan. Juga tidak makan makanan yang bergizi macam kita ini. Satu hal yang pasti. Mereka merasakan rasa sakit yang sama, merasakan susah dan penderitaan yang sama. 

Akhirnya mereka menumpahkan perasaan itu diwadah yang sama pula, yaitu hati mereka. Disitulah semangat nasioanlisme sejati muncul. Semangat itu pula yang jauh lebih penting dari otak-otak lulusan S1, S2 bahkan Profesor sekalipun.
Satu lagi yang unik dari para Pahlawan adalah kebodohan mereka justru menjadi kekuatan. Mereka mungkin tidak mengenal Undang-Undang, Pancasila, KUHP, yang mereka tahu hanya merdeka. Ketidaktahuan mereka itulah yang membuatnya fokus untuk merebut kemerdekaan ditangan Belanda dan Inggris. 

Dalam kasus ini, diera modern bisa terefleksi oleh orang-orang yang tidak berpendidikan tinggi tapi sukses. Seperti contoh Bu Menteri Susi yang naik daun belakangan ini. Seorang Menteri nyentrik nan pekerja keras itu hanya lulusan SMP. Itu membuktikan jika orang yang berpendidikan minim bisa fokus dalam mengejar impiannya dan yang berpendidikan tinggi namun banyak pikir untuk melangkah belum tentu. Begitu juga Pak Dahlan Iskan yang hanya lulusan Unversitas Kehidupan.
Diera para kapitalis sekarang ini, dasarnya saja sudah roboh yaitu egosentris. Betapa banyak mereka-mereka yang taat kepada nafsu untuk kepentingan perutnya sendiri. Ini pula yang menyebabkan kesenjangan terus saja mengalami peningkatan. 

Masyarakat modern ini tidak lagi menikmati nikmatnya berbagi rasa sakit. Berbagi duka lara untuk dirasakan bersama. Para birokrat mengajarkan betapa kekuasaan adalah Tuhan yang patut kita nomorsatukan. Sidang yang begitu terhormat malah seperti pemilihan ketua kelas Taman Kanak-kanak.
Jiwa yang sudah diliputi ego yang tinggi akan menimbulkan rasa ingin diakui yang tinggi pula. Nah, ini yang bahaya. Banyak orang yang ingin diakui keeksisannya di Dunia ini. Kadang hal itu pula lah yang justru membuat kerusuhan. Seperti contohnya genk motor. Kebanyakan dari pemuda-pemuda itu kurang kasih sayang. Lantaran  itulah mereka menunjukan eksistensi dirinya dengan melakukan tindakan kriminalitas yang berujung perampokan, pengrusakan, dan pencurian. 

Orang macam itulah yang merusak citra pemuda. Kekuatan yang seharusnya dimanfaatkan untuk membela Negara malah justru merusak Negara.
Seperti seyogyanya ulang tahun-ulang tahun lalu. Ulang tahun kali ini semoga menjadi tonggak kebangkitan pemuda untuk menumbuhkan jiwa Pahlawan. Rubah mental yang tadinya bermentak sinetron menjadi patriot. 

Biarkan saja media mengajarkan untuk menjadi pemuda cengeng, lakukan filterisasai untuk menghalau itu semua. Tidak perlu menjadi Bung Karno atau Bung Tomo untuk dikenang sebagai Pahlawan. 

Cukup dengan mempahlawani diri sendiri sudah cukup. Menjadi pribadi yang layak saing. Tidak perlu terlalu pandai yang penting punya tekad dan semangat untuk meraih mimpi. Selamat Hari Pahlawan wahai pemuda. 
Penulis: Fajar Ariyanto

Baca Juga:
2 Sehat 3 Sempurna
Anak Infestasi Utama
Adalah Lelaki Sejati
Menuju Mudik Sejati
Kembalikan Citra Guru

Aku Menjadi Kita
Ketika Kebodohan Menjadi Tuhan

Anak Infestasi Utama

Tawangharjo.com-Mempunyai anak yang pintar merupakan kebanggan bagi orang tua. Tak ayal, untuk mendapatkan sebuah kebanggaan itu orang tua rela merogoh uang dalam-dalam. Kemudian yang terjadi adalah si anak dipaksa kerja keras banting tulang untuk belajar dari pagi sampai siang. Sorenya digunakan untuk les sedangkan malamnya kembali belajar dan mengerjakan PR. Melihat anaknya disiplin membuat orang tua senang. Apabila si anak jenuh, sebagian orang tua memarahi dan sebagian orang tua lagi memberi hadiah berupa gadget atau apapun yang membuat anak senang.


Mempunyai anak yang pintar merupakan kebanggan bagi orang tua. Tak ayal, untuk mendapatkan sebuah kebanggaan itu orang tua rela merogoh uang dalam-dalam. Kemudian yang terjadi adalah si anak dipaksa kerja keras banting tulang untuk belajar dari pagi sampai siang. Sorenya digunakan untuk les sedangkan malamnya kembali belajar dan mengerjakan PR. Melihat anaknya disiplin membuat orang tua senang. Apabila si anak jenuh, sebagian orang tua memarahi dan sebagian orang tua lagi memberi hadiah berupa gadget atau apapun yang membuat anak senang.

Lantas pertanyaannya dasarnya adalah, dimana posisi Tuhan ?. Perlu diingat dalam buku Markesot bertutur karya Cak Nun, Tuhan adalah Dzat yang harus dinomorsatukan. Ketika malaikat bertanya, siapa Tuhanmu ?. Maka sesungguhnya esensi dari pertanyaan itu adalah siapa yang engkau nomorsatukan didunia ini ?. Matematika kah ?, les musik kah ?, tau rengking. Pentingnya mendidik anak untuk menomorsatukan Tuhan adalah tugas wajib bagi orang tua. Orang tua seyogyanya bisa lebih proporsional mendidik anak, mengenalkan bahwa Tuhan adalah segalanya, tanpa campur tangan Nya tidak ada manusia sukses. Selain memberikan pengertian, berikan juga contoh. Karena kecenderungan anak adalah mengikuti tingkah laku orang tua.

Baca Juga:
Sejalan dengan hal diatas, Pakar ESQ (Emotional Spiritual Quotient) Ary Ginanjar Agustian mengatakan. Kecerdasan intelektual hanya berperan sekitar 10-20 persen saja dalam menentukan kesuksesan, dimana 80 persen adalah kecerdasan emosi. Kecerdasan yang 80 persen inilah yang belum disadari oleh para orang tua, yang padahal merupakan inti dari kesuksesan itu sendiri. Orang bangga melihat anaknya pintar. Mendapatkan rengking pertama, padahal beliau tidak tau jika jiwa anaknya sedang kosong. Bila ada nilai yang buruk segera memfonis jika si anak malas dan dituntut untuk lebih giat lagi. Perlakuan diskriminasi semacam ini yang kadang disalah artikan oleh anak, bahwa orang tua itu jahat. Lantas jika sudah seperti ini, siapa yang harus disalahkan. Semua merasa benar
Pendidikan umum memang penting tapi pendidikan agama lebih penting. Terkadang masyarakat sering salah tafsir, pendidikan agama hanya diartikan sebagai salah satu pelajaran disekolah. Padahal itu hanya sebagian kecil, pendidikan agama dimulai sejak kecil, dewasa hingga akhirnya menua. Aplikasinya pun dilakukan setiap detik dalam hidup. Dimulai bagaimana cara bersyukur, menerima nasip, perjuangan hidup dan menyikapi kegagalan. Jadi tidak salah apabila pendidikan agama memang mutlak diutamakan.
Mengajarkan pendidikan agama dasar sejak dini adalah langkah yang harus dilakukan. Para orang tua diharapkan bisa mengajari anak kejujuran, tanggung jawab dan toleransi. Karena semua itu adalah nilai-nilai Islam yang mulai pudar. Kemudian setelah itu, menjelang anak memasuki usia SD. Sebisa mungkin diajarkan untuk sholat dan puasa. Ajak meraka untuk mulai mengenal masjid, membaca Al-Qur’an dan pengajian. Kebiasaan orang jaman dulu, sehabis magrib membaca Qur’an, seiring perkembangan zaman kebiasaan itu malah ditinggalkan karena kalah dengan acara-acara di televisi.
Jika sudah begitu, para orang tua sebisa mungkin memfilter anak-anak meraka ketika menonton acara tv. Kegiatan menonton tv sebaiknya juga dijadwal sedemikian rupa sehingga si anak tidak lupa dengan tugas utamanya. Porsi antara ibadah, sekolah dan hiburan diseimbangkan agar tumbuh kembang anak juga bisa seimbang. Karena banyak sekali acara-acara tv yang anak sukai namun justru berdampak buruk bagi mereka. Adegan-adegan yang dilarang oleh agama pun diperagakan sedemikian rupa hingga tercipta menjadi sebuah kelumrahan.
Mengajarkan pendidikan pada anak memang susah-susah gampang. Namun jika berhasil, efeknya juga luar biasa. Seperti yang diterangkan dalam sebuah hadits, bahwa anak yang sholeh amalnya akan terus mengalir meskipun orang tua meningal dunia. Dosa sebesar apapun Insyaalloh akan terampuni jika mempunyai investasi anak yang sholeh. Anak yang sholeh buka anak yang pintar matematika, fisika dan kima. Anak yang sholeh adalah anak yang selalu berbakti dan mendoakan kepada orang tuanya, taat pada Alloh dan Rosulnya.  (Penulis Fajar Arianto)

Baca Juga:

2 Sehat 3 Sempurna

22 Juli 2014 Indonesia mempunyai nahkoda baru. Nahkoda yang diharapkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan yang mampu mensejahterkan masyarakat. Kedua poin itu sebanarnya adalah permintaan lumrah dari rakyat yang telah mengetahui betapa besarnya potensi Indonesia. Memang tidak mudah, tapi bukankan itu tugas seorang presiden. Presiden baru dituntut untuk melanjutkan program-progam yang baik dan memperbaiki yang buruk.


Sebelum melaksanakan dua tugas pemerintahan yang sehat tersebut dari sudut pandang pemuda, mari terlebih dahulu bersama-sama menciptakan situsasi kondusif ketika pengumuman nanti. Benyak pengamat menilai, pengumuman presiden berpotensi ricuh jika kedua masa para pendukung Pak Prabowo dan Pak Jokowi berdatangan. Jika hanya berdatangan saja sudah perpotensi ricuh, apa lagi jika membawa atribut kampanye. Maka dari itu masing-masing kedua kubu sudah mewanti-wanti hal ini kepada para pendukungnya. Pak Jokowi menghimbau untuk tidak lagi memakai baju kotak-kotak, khas beliau. Sedangkan Pak Mahfud (Ketua Timses Prabowo-Hatta) meminta untuk semuanya bersikap tenang.
Tuntutan pertama adalah lapangan pekerjaan. Lapangan pekerjaan menjadi suatu hal yang terpenting bagi mahasiswa. Ketersediaan lapangan pekerjaan yang memadai akan memacu mahasiswa untuk berbuat lebih. Tidak hanya itu, persepsi buruk masyarakat terhadap dunia pendidikan bisa dihapus. Misalnya : banyak sarjana yang jadi pengangguran, tidak usah kuliah, toh nantinya juga nganggur, dan masih banyak lagi. Persepsi-persepti semacam inilah yang kelak merusak bangsa ini.
Kenyataanya memang demikian. Banyak sekali pemuda, terutama dari Desa enggan untuk kuliah, padahal sebenarnya mampu. Ketidakpercayaan pemuda kepada sistim pendidikan faktor utamanya adalah mencetak pengangguran. Mereka berpendapat jika kuliah dan tidak kuliah sama saja. Maka dari itu, dari pada membuang-buang uang lebih baik lulus SMA / SMK langsung kerja. Bisa dibayangkan jika kerja hanya bermodal ijasah SMA/SMK akan menjadi apa.
Selanjutnya mensejahterakan masyarakat. Kata sejahtera memang sederhana tapi sulit nyatanya. Apalagi jika diterapkan pada rakyat Indonesia yang super majemuk. Kemajemukan yang seharusnya menjadi keindahan justru tidak demikian. Bhineka Tunggal Ika hanya sebatas kalimat belaka. Tidak benar-benar diaplikasinkan. Contoh kecil adalah membuang sampah, lalu lintas dijalan, budaya antri. Patut dipertanyakan. Apakah kita sudah mensejahterkan diri kita sendiri ?. Jika belum mengapa kita menuntut pemerintah ?.
Apabila masyarakat sudah berhasil mensejahterkan dirinya sendiri, maka akan lebih mudah untuk pemerintah membuat program-program yang pro rakyat. Pemerintah yang membuat program sebenarnya sudah bagus. Hanya pelaksanaannya yang kurang. Ada saja kendala, seperi korupsi, pelayanan kurang dan minimya sosialisasi. Dari ketiga hal diatas, korupsi merupakan kesalahan yang sangat fatal. Pemberantasannya sudah baik, yang kurang adalah hukumannya yang tidak menimbulkan efek jera. Sinkronisasi  antara rakyat dan pemerintah adalah kunci terciptanya kesejahteraan.
Terakhir untuk membentuk pemerintahan yang sempurna adalah tiga, berani berkata tidak kepada pihak asing yang merugikan bangsa. Hal yang satu ini memang tidak kalah sulit dengan yang dua sehat tadi. Untuk Negara Indonesia yang berkategori Negara berkembang, desakan itu sudah pasti ada. Apalagi dengan segala kekayaan dan sumber daya yang dipunya. Sudah pasti Indonesia menjadi santapan lezat Harimau-Harimau yang bernama Negara Maju. Mulai dari politik, pangan, Sumber Daya Alam sampai sosial dan budaya.
Sekelumit contohnya adalah ketika Presiden SBY disadap oleh pihak Australia beberapa waktu yang lalu. Juga ketika tambang emas di Papua dikeruk oleh pihak asing. Sedangkan yang paling memalukan manakala kesenian khas Indonesia diakui oleh Malaysia, Negara tetangga. Yang dibutuhkan disini adalah ketegasan dan keberanian. Ketegasan untuk menindak masalah diatas supaya tidak terulang. Keberanian untuk memerangi siapa saja yang ingin menginjak-injak martabat Negara Kesatuan Republik indonsia.
Menciptakan Bangsa yang ideal bukan perkara mudah. Butuh waktu, butuh sinerji yang luar biasa besar kompak antara rakyat dan pemerintah. Untuk itu targetnya jangan berlebihan, cukup menjadi disegani dan berprestasi di kawasan Asia Tenggara. Semua pasti memimpikan Negara Indonesia seperi Jepang, Amerika dan Negara-negara Eropa lainnya. Kita tidak perlu menjadi seperti mereka, cukup menjadi diri sendiri. Karena Indonesia beda dengan Negara-negara maju diatas. Indonesia punya karakter sendiri dan kepribadian sendiri yang patut dibanggakan. Selamat untuk Presiden yang baru. Semoga bisa mencerna dan membantu mencernakan asupan 2 sehat 3 sempurna diatas. 
(Penulis Fajar Arianto)

Baca Juga:

Per0k0k Adalah Lelaki Sejati

Mer0k0k. Adalah suatu budaya yang wajib bagi para pemuda yang menganut hukum rimba di Sekolah-Sekolah atau bahkan di Perguruan Tinggi. Midset jika para per0k0k adalah lelaki sejati kian menjamur dan susah dihilangkan. Para pencandu ini tak jarang memilih untuk tidak makan dari pada tidak mer0k0k. Dan parahnya, mereka bangga. Kebanggaan yang mereka peroleh karena  beberapa hal. Sedikitnya ada tiga. Sebab mereka diakui, banyak teman dan mendapatkan kenikmatan. 


Mengkonsumsi r0k0k bukan merupakan hal yang tabu, setidaknya dalam 30 tahun silam. Karena dalam kurun waktu yang sama konsumsi r0k0k di Indonesia mengalami pertumbuhan pesat, dari 33 milyar perbatang pertahun ditahun 1970, ke 217 milyar perbatang pertahun di tahun 2000. Padahal t3mbak4u berada dipuncak penyebab kematian diseluruh dunia. T3mbak4u menyebabkan satu dari sepuluh orang meninggal dunia, 5,4 juta meninggal pada tahun 2006. Indonesia menempati urutan ke tiga terbanyak jumlah per0k0k yang mencapai 146.860.000 jiwa. Seperti yang dikemukaan diatas, setidaknya ada tiga faktor penyebab suburnya per0k0k di Indonesia.
Yang pertama adalah rasa ingin diakui. Bagi remaja, hal ini pasti menjadi alasan utama mengapa mereka memutuskan untuk mer0k0k. Menurut pandangan mereka per0k0k lebih tinggi derajatnya dibanding yang tidak mer0k0k. Di Sekolah-Sekolah jaman sekarang yang umumnya menganut hukum rimba, mer0k0k sudah menjadi syarat untuk masuk suatu genk. Mer0k0k diam-diam di Sekolah seperti sudah menjadi tren khususnya bagi para lelaki “sejati.” Meskipun arti sejati itu sebenarnya negatif, tapi bagi para remaja, itu menjadi positif. Budaya semacam inilah yang harus para guru sadari untuk segera ditindak lanjuti hukuman apa yang pas untuk mereka.

Setelah rasa diakui sudah muncul dan tertanam dihati mereka, rasa percaya diripun akan datang dengan sendirinya. Kemudian mereka bertemu, bermain bersama dan tentu saja mer0k0k bersama. Membicarakan sesuatu tanpa sensor dengan kepulan asap yang mengiringi. Seolah mereka sudah menyatu, seperti sudah sehati dan menganggap r0k0klah yang mempersatukan mereka. Kemudian itu berlangsung setiap hari hingga muncul rasa candu. Uang yang seharusnya untuk makan makanan yang bergizi, hasil jerih payah kedua orang tua, mereka gunakan untuk membeli r0k0k. Jika salah satu tidak punya uang mereka berbagi. Berbagi memang sungguh indah, apalagi berbagi racun.

Ketiga. Konon katanya mer0k0k dapat menghilangkan stress dan mengundang sensasi kenikmatan. Alasan ketiga ini untuk para per0k0k akut. Jika mereka tidak mer0k0k satu hari saja kabarnya nikmat Tuhan ada yang hilang. Pekerjaan yang banyak menuntut mereka memeras otak dan tenaga untuk segera menyelesaikannya. Disaat lelah menyapa, r0k0k hadir menawarkan bahagia. Disitulah katanya letak kenikmatan itu. Setiap kali menghisap r0k0k, rasa lelah mereka seolah menghilang bersama kepulan asapnya. Sama seperti kematian yang ditimbulkan.

Siapa yang tidak tergiur oleh ketiga kenikmatan yang ditawarkan oleh r0k0k tadi. Terutama kenikmatan yang pertama. Hampir semua orang akan melakukan apapun agar keberadaan dirinya diakui. Secara psikologis manusia butuh diakui, butuh disanjung dan dipuji. Apalagi jika dengan itu teman dan kenikmatan yang diperoleh, lengkaplah sudah hidup ini. Tidak ada alasan untuk tidak mer0k0k. Karena dengan itu tiga kebahagiaan yang dianggap mereka surgawi akan diperoleh.

Padahal jelas-jelas dalam bungkus r0k0k tegas terpampang. Mer0k0k dapat membunuhmu. Kalimat yang lebih kasar dari sebelumnya. Mer0k0k dapat menyebabkan kanker, serangan jantung dan lain-lain. Tapi toh juga tidak mereka gubris oleh para pecandu. Mer0k0k memang sudah menjadi budaya yang melekat di negeri ini. Untuk menghapusnya pun susahnya bukan main. Yang bisa dilakukan adalah mer0k0k pada tepatnya. Para per0k0k harus sadar jika asap bisa membahayakan orang sekitar.

Dan yang paling penting untuk pemuda. Tolong jangan jadikan para per0k0k sebagai simbol lelaki sejati. Hapus budaya bahwa per0k0k adalah para pemberani. Orang yang ditakuti dan disegani. Justru sebaiknya, mereka adalah orang lemah. Karena tidak bisa mengalahkan dirinya sendiri. Seperti kata orang bijak. Jika manusia terkuat bukanlah orang yang bisa mengalahkan orang lain. Tapi mengalahkan dirinya sendiri.     

Baca Juga:

Mudik, Menuju Mudik Sejati

Semua harus bangga dengan bangsa Indonesia. Negara yang dikenal sopan dan santun ini mempunyai tradisi yang patut dibanggakan. Tradisi mudik. Sebuah perjalanan dari tanah rantau menuju kampung halaman. Meskipun banyak sekali pro dan kontra, toh masyarakat masih setia merawat tradisi ini. Penulis setuju jika tradisi mudik ini terus dilestarikan. Karena dengan mudik masyarakat mengetahui dari mana meraka berasal. Bahwa sejatinya tanah rantau hanya sebatas medan perjuangan belaka.

Semua harus bangga dengan bangsa Indonesia. Negara yang dikenal sopan dan santun ini mempunyai tradisi yang patut dibanggakan. Tradisi mudik. Sebuah perjalanan dari tanah rantau menuju kampung halaman. Meskipun banyak sekali pro dan kontra, toh masyarakat masih setia merawat tradisi ini. Penulis setuju jika tradisi mudik ini terus dilestarikan. Karena dengan mudik masyarakat mengetahui dari mana meraka berasal. Bahwa sejatinya tanah rantau hanya sebatas medan perjuangan belaka.

Mudik seharusnya menjadi media pembelajaran dan media penyadaran. Pembelajaran dalam hal perjuangan di tanah rantau untuk bekerja keras, seperti kata seorang pepatah. Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup selamanya. Sedangkan media penyadaran adalah metode untuk ingat bahwa sesungguhnya perjuangan ada batasnya. Seperti kelanjutan pepatah diatas. Beribadahlah untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok.
Namun kenyataannya apakah demikian, sepertinya tidak. Hampir rata-rata pelaku mudik belum mengerti apa itu mudik sejati. Mereka masih mengutamakan gengsi belaka. Dimana waktu mereka mudik, banyak sekali hal-hal yang bisa merusak makna mudik itu sendiri. Misal: membeli pakaian yang berlebihan, berhias mempercantik atau mempertampan diri supaya terlihat “wah” di kampung intinya adalah selalu memikirkan penampilan dari pada sucinya hati. Hal-hal yang tidak berguna diatas adalah produk dari gengsi. Bukankah semua itu tergantung niat, jika niatnya hanya ingin dipuji. Hanya itu yang didapat, bukan keberkahan.

Baca Juga:
Menurut hemat penulis. Mudik terdiri dari tiga macam. Mudik lahiriah, mudik batiniah dan gambungan antara keduanya. Mudik lahiriah berarti hanya fisiknya saja yang pulang. Pulang ke kampung halaman tanpa disertai niat yang suci. Niat mereka bertemu keluarga hanya untuk menunjukkan bahwa dirinya telah sukses. Memamerkan  segala yang ia punya supaya dipuji. Mudik seperti ini mungkin hanya mendapat 10% dari 100% kebahagiaan mudik sejati.
Kedua adalah mudik batiniah. Mudik ini berarti hanya hatinya saja yang pulang, sementara raganya tidak. Sekarang banyak sekali sistim komunikasi yang memungkinkan orang berhubungan jarak jauh, Hp, Skype, Facebook, Twitter, misalnya. Niat pelaku mudik batiniah sebanarnya sudah bagus, hanya saja karena tidak ada waktu libur jadi tidak bisa pulang. Meskipun rindu yang luar biasa kepada keluarga tapi karena tuntutan pekerjaan, mereka tidak pulang. Ini kurang afdol. Bermaafan akan terasa bermakna bila kedua pasang mata saling bertemu.
Terakhir adalah mudik lahiriah dan batiniah. Inilah yang disebut  mudik sempurna. Kesempurnan mudik akan tercipta manakala raga dan jiwa hadir dalam sebuah niatan yang baik. Ketika bertemu dan berjabat tangan akan terasa lebih bahagia bila hati juga turut hadir. Jika sudah begitu keberkahan dan kebahagiaan akan datang dengan sendirinya. Kita baru akan merasa benar-benar mudik jika sudah sampai pada level ini. Pada level ini pun  belum bisa dinamakan mudik sejati. Bisa dibilang ini baru mudik (semi) sejati.
Seperti yang ditengkan sebelumnya. Mudik sejati akan terasa bila individu sudah berhasil memahami tugas dan fungsi hidup. Sebagai manusia tugas kita adalah untuk menyembah Alloh SWT dan fungsinya adalah sebagai kholifah (pemimpin). Menyembah Alloh bukan berarti kita harus salat. Dalam arti luas, menyembah Alloh dapat ditafsirkan patuh dan tunduk kepada Nya. Segala macam perintah Nya dilaksanakan. Yang dilarang, dijauhi.
Mudik sejati adalah saat individu sudah bertemu kembali dengan Sang Penciptanya. Dimana ketika raga dan jiwa telah terpisah. Segala macam tindak tanduk akan dipertanggung jawabkan kepada Sang Maha Adil. Dunia ibarat tanah rantu yang harus bisa ditaklukan. Untuk menaklukan butuh yang namanya perjuangan. Perjuangan yang tidak kenal lelah untuk mengumpulkan bekal mudik ke kampung halaman akhirat. Yang mana kampung itu hakiki. Kekal, abadi, selamanya.   
Memahami makna mudik sejati memang sulit. Namun mengaplikasikannya lebih sulit. Butuh niat dan idealisme yang kuat untuk meraih semua itu. Butuh waktu seumur hidup untuk memahami dan melaksanakannya, karena tidak ada yang tau kapan kematian datang. Selamat bermudik-mudik ria. Jaga keselamatan, kalau belum ingin ke kampung akhirat.

Baca Juga:
sejarah mudik, tradisi mudik, asal kata mudik, mudik 2018, budaya mudik di indonesia, mudik lebaran, kepanjangan mudik bahasa jawa, mudik lucu #keyword

Kembalikan Citra Guru


definisi guru, guru sekolah, pengertian guru, makalah tentang guru, artikel guru, pengertian guru menurut para ahli, ruang guru, tugas guru adalah #keyword
Guru dalam Bahasa Jawa dibedah menjadi digugu lan ditiru. Betapa pentingnya seorang Guru sampai-sampai semua perkataan dan perbuatan harus dicontoh. Definisi Guru yang luar biasa inilah yang tidak boleh dicemari. Dihari Guru Nasional tahun ini profesi Guru sungguh sangat tercoreng. Bayangkan saja banyak kasus, baik kekerasan sampai pelecehan s3ksual dilakukan oleh profesi yang bergelar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa ini. Ibarat peribahasa, nila setitik rusak susu sebelanga.


Seperti contoh kasus kekerasan yang dialami oleh Tri Aji Bayu Setyo. Lelaki beru berumur  15 Tahun ini harus dirawat di Rumah Sakit Panti Waluyo, Solo akibat dilempar ke tempat sampah plsatik oleh Gurunya sendiri. Siswa SMP N 3 Nguter, Sukoharjo ini mendapat kekerasan lantaran mengobrol dengan teman-teman sekelasnya saat upacara akan dmulai.

Peristiwa yang lebih memilukan lagi terjadi di Kabupaten Serang, Banten. Adalah Nurul Muhtadin Kibin (14) diduga dianiaya Guruya sampai mengalami luka lebam disejumlah bagian tubuhnya lantaran ingin meminjam spidol. Peristiwa tersebut terjadi pada saat pelajaran agama. Korban hendak meminjam spidol kepada kawannya dan bangun dari tempat duduknya saat pelajaran berlangsung. Tiba-tiba sang guru agama langsung menampar pipi sebelah kiri korban dan semakin membabi buta.
            
Kasus pelecehan s3ksual pun juga ada. Seorang Guru SMA Yadika Tanjung Duren Jakarta yang berisial KA dinonaktifkan karena dilaporkan telah melakukan pelecehan s3ksual terhadap 9 siswinya. Parahnya, KA melakukan aksi pelecehan s3ksual tersebut didepan para siswa lainnya. Kasus lainnya yang juga menggemparkan publik terjadi di Jakarta Internasional School (JIS). Kasus memilukan ini memakan korban anak TK yang disodomi. Pelaku tersebut bersinisla A dan A. foto keduanya sempat gempar saat Komisi Nasional Perlindungan Anak merilisnya beberapa bulan lalu.

Baca Juga:
Citra Guru yang miring juga terjadi lantaran mereka PNS. Tidak sedikit orang yang bercita-cita menjadi seorang Guru bukan dengan niat yang tulus mendidik anak-anak Indonesia supaya pintar. Melainkan hanya untuk gaji semata. Gaji PNS yang besar plus tunjangan-tunjangan ditambah uang pensiunan membuat orang berbondong-bondong untuk menggeluti pekerjaan ini. Sebagai contoh saat pendaftaran PNS. Berapa ribu orang yang mendaftar serta berapa ratus orang yang diterima.

Pelonjakan mahasiswa jurusan Pendidikan Guru bukti selanjutnya. Sebagian besar lulusan SMA / Sederajat menginginkan profesi Guru. Padahal kelaukan mereka sungguh sangat tidak pantas untuk digugu lan ditiru. Masa remaja tentu berpengaruh besar di masa dewasa. Bagaimana mungkin akan menjadi Guru sementara kelakuan mereka mabuk, judi dan kemaksiatan lainnya. Omongan yang kasar dan tidak sopan memperjelas jika profesi Guru tidak pantas mereka sandang.

Lantas apa yang mereka harapkan dari seorang Guru. Kembali ke awal, gajinya. Karena para alumni siswa itu melihat jika Guru adalah profesi mudah bergaji besar. Pagi berangkat, siang pulang. Kalau murid libur, liburlah dia. Yang juga tidak kalah enak menjadi Guru adalah dihormati dan disegani. Lantas apa lagi alasan untuk tidak menjadi Guru.
            
Niat, adalah syarat utama untuk menjadi seorang Guru. Karena niat sifatnya personal jadi mustahil ada tes apakah niat sicalon Guru lurus atau bengkok. Lagi-lagi kesadaran manusia menjadi peran utama dalam kasus ini. Hendaknya niat seorang Guru benar-benar tulus. Gaji boleh-boleh saja karena pada dasarnya manusia butuh uang untuk hidup.

Peran orang tua juga cukup penting. Jangan sampai anaknya yang selalu bermaksiat didukung untuk menjadi Guru padahal sianak tidak mau. Jangan seenaknya sendiri, mentang-mentang sudah menjadi guru lantas bisa membawa anaknya. Baik untuk mengetahui dulu potensi anak, jangan sampai potensi sejati anak yang diberikan oleh Tuhan dimatikan oleh kehendak orang tua.
            
Hingga akhirnya Guru-Guru di Indonesia menjadi berbobot dan berkualitas. Terpilihnya Anies Basweden diharapkan bisa mengubah citra Guru yang sudah tercoreng. Guru berkompeten dan siswa pandai. Mustahil Indonesia tidak hebat.

Penulis Fajar

Baca Juga:
definisi guru, guru sekolah, pengertian guru, makalah tentang guru, artikel guru, pengertian guru menurut para ahli, ruang guru, tugas guru adalah #keyword

Tawangharjo.com

Iklan Layang