Home » , , » Mudik, Menuju Mudik Sejati

Mudik, Menuju Mudik Sejati

Semua harus bangga dengan bangsa Indonesia. Negara yang dikenal sopan dan santun ini mempunyai tradisi yang patut dibanggakan. Tradisi mudik. Sebuah perjalanan dari tanah rantau menuju kampung halaman. Meskipun banyak sekali pro dan kontra, toh masyarakat masih setia merawat tradisi ini. Penulis setuju jika tradisi mudik ini terus dilestarikan. Karena dengan mudik masyarakat mengetahui dari mana meraka berasal. Bahwa sejatinya tanah rantau hanya sebatas medan perjuangan belaka.

Semua harus bangga dengan bangsa Indonesia. Negara yang dikenal sopan dan santun ini mempunyai tradisi yang patut dibanggakan. Tradisi mudik. Sebuah perjalanan dari tanah rantau menuju kampung halaman. Meskipun banyak sekali pro dan kontra, toh masyarakat masih setia merawat tradisi ini. Penulis setuju jika tradisi mudik ini terus dilestarikan. Karena dengan mudik masyarakat mengetahui dari mana meraka berasal. Bahwa sejatinya tanah rantau hanya sebatas medan perjuangan belaka.

Mudik seharusnya menjadi media pembelajaran dan media penyadaran. Pembelajaran dalam hal perjuangan di tanah rantau untuk bekerja keras, seperti kata seorang pepatah. Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup selamanya. Sedangkan media penyadaran adalah metode untuk ingat bahwa sesungguhnya perjuangan ada batasnya. Seperti kelanjutan pepatah diatas. Beribadahlah untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok.
Namun kenyataannya apakah demikian, sepertinya tidak. Hampir rata-rata pelaku mudik belum mengerti apa itu mudik sejati. Mereka masih mengutamakan gengsi belaka. Dimana waktu mereka mudik, banyak sekali hal-hal yang bisa merusak makna mudik itu sendiri. Misal: membeli pakaian yang berlebihan, berhias mempercantik atau mempertampan diri supaya terlihat “wah” di kampung intinya adalah selalu memikirkan penampilan dari pada sucinya hati. Hal-hal yang tidak berguna diatas adalah produk dari gengsi. Bukankah semua itu tergantung niat, jika niatnya hanya ingin dipuji. Hanya itu yang didapat, bukan keberkahan.

Baca Juga:
Menurut hemat penulis. Mudik terdiri dari tiga macam. Mudik lahiriah, mudik batiniah dan gambungan antara keduanya. Mudik lahiriah berarti hanya fisiknya saja yang pulang. Pulang ke kampung halaman tanpa disertai niat yang suci. Niat mereka bertemu keluarga hanya untuk menunjukkan bahwa dirinya telah sukses. Memamerkan  segala yang ia punya supaya dipuji. Mudik seperti ini mungkin hanya mendapat 10% dari 100% kebahagiaan mudik sejati.
Kedua adalah mudik batiniah. Mudik ini berarti hanya hatinya saja yang pulang, sementara raganya tidak. Sekarang banyak sekali sistim komunikasi yang memungkinkan orang berhubungan jarak jauh, Hp, Skype, Facebook, Twitter, misalnya. Niat pelaku mudik batiniah sebanarnya sudah bagus, hanya saja karena tidak ada waktu libur jadi tidak bisa pulang. Meskipun rindu yang luar biasa kepada keluarga tapi karena tuntutan pekerjaan, mereka tidak pulang. Ini kurang afdol. Bermaafan akan terasa bermakna bila kedua pasang mata saling bertemu.
Terakhir adalah mudik lahiriah dan batiniah. Inilah yang disebut  mudik sempurna. Kesempurnan mudik akan tercipta manakala raga dan jiwa hadir dalam sebuah niatan yang baik. Ketika bertemu dan berjabat tangan akan terasa lebih bahagia bila hati juga turut hadir. Jika sudah begitu keberkahan dan kebahagiaan akan datang dengan sendirinya. Kita baru akan merasa benar-benar mudik jika sudah sampai pada level ini. Pada level ini pun  belum bisa dinamakan mudik sejati. Bisa dibilang ini baru mudik (semi) sejati.
Seperti yang ditengkan sebelumnya. Mudik sejati akan terasa bila individu sudah berhasil memahami tugas dan fungsi hidup. Sebagai manusia tugas kita adalah untuk menyembah Alloh SWT dan fungsinya adalah sebagai kholifah (pemimpin). Menyembah Alloh bukan berarti kita harus salat. Dalam arti luas, menyembah Alloh dapat ditafsirkan patuh dan tunduk kepada Nya. Segala macam perintah Nya dilaksanakan. Yang dilarang, dijauhi.
Mudik sejati adalah saat individu sudah bertemu kembali dengan Sang Penciptanya. Dimana ketika raga dan jiwa telah terpisah. Segala macam tindak tanduk akan dipertanggung jawabkan kepada Sang Maha Adil. Dunia ibarat tanah rantu yang harus bisa ditaklukan. Untuk menaklukan butuh yang namanya perjuangan. Perjuangan yang tidak kenal lelah untuk mengumpulkan bekal mudik ke kampung halaman akhirat. Yang mana kampung itu hakiki. Kekal, abadi, selamanya.   
Memahami makna mudik sejati memang sulit. Namun mengaplikasikannya lebih sulit. Butuh niat dan idealisme yang kuat untuk meraih semua itu. Butuh waktu seumur hidup untuk memahami dan melaksanakannya, karena tidak ada yang tau kapan kematian datang. Selamat bermudik-mudik ria. Jaga keselamatan, kalau belum ingin ke kampung akhirat.

Baca Juga:
sejarah mudik, tradisi mudik, asal kata mudik, mudik 2018, budaya mudik di indonesia, mudik lebaran, kepanjangan mudik bahasa jawa, mudik lucu #keyword

0 komentar:

Post a Comment

Please Coment yang baik saja. terimakasih :-)

Tawangharjo.com

Iklan Layang