Home » , » Diri Kita Adalah Penjajah

Diri Kita Adalah Penjajah

HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh pada (Minggu, 17/8) kemarin disambut suka cita oleh seluruh lapisan masyarakat. Antusisme masyarakat ditunjukan dengan memasang bendera dan beragam lomba yang bertujuan untuk mempereret kebhinekaan. Ditengah hingar bingar dan suka cita rakyat Indonesia ada beberapa masalah yang patut dikritisi. Masalah ini sebenarnya sudah meradang beberapa tahun yang lalu. Yaitu hilangnya roh keteladanan bagi pemuda Indonesia. Suri tauladan menjadi langka pasca 69 tahun yang lalu.

HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh pada (Minggu, 17/8) kemarin disambut suka cita oleh seluruh lapisan masyarakat. Antusisme masyarakat ditunjukan dengan memasang bendera dan beragam lomba yang bertujuan untuk mempereret kebhinekaan. Ditengah hingar bingar dan suka cita rakyat Indonesia ada beberapa masalah yang patut dikritisi. Masalah ini sebenarnya sudah meradang beberapa tahun yang lalu. Yaitu hilangnya roh keteladanan bagi pemuda Indonesia. Suri tauladan menjadi langka pasca 69 tahun yang lalu.

Memberi keteladanan bukan hanya tugas orang tua. Melainkan tugas semua makhluk yang bergelar manusia. Untuk itu marilah kita salahkan diri kita sendiri yang belum bisa berbuat banyak terhadap bangsa dan Negara ini. Jika muhasabah sudah dilakukan akan lebih mudah kita mencari musababnya, musabab mengapa pemuda Indonesia tidak maju-maju. Beberapa hal berikut mungkin bisa menjadi referensinya. Pertama, kurangnya rasa memiliki terhadap Indonesia. Kedua, cenderung mengikuti budaya asing. Selanjutnya, menginginkan perubahan, namun enggan berubah. Terakhir mentalitas pemuda.


Baca Juga:


Kurangnya rasa memiliki terhadap tanah air tercinta ini memang bukan rahasia umum lagi. Kita seolah apatis dengan masalah yang terjadi di Indonesia. Banyaknya kasus, terutama kasus korupsi adalah penyebab utamanya. Sebagai warga Negara yang baik, melihat masalah sebaiknya ditinjau dari berbagai sudut pandang. Misalnya saja dalam kasus korupsi yang ada dipemerintahan Pak SBY. Memang, dari satu sisi pemerintahan tersebut banyak petinggi negeri yang korup. Tapi disisi lain, Pak SBY sudah memuhi janjinya jika terpilih lagi menjadi presiden , yaitu pemberantasan korupsi tanpa pandang bulu. Kebohongan memang manis dan kejujuran memang pahit. Meski begitu Pak SBY sabar menghadapi rakyatnya.
Kurangnya rasa cinta terhadap Indonesia melahirkan kecintaan terhadap bangsa lain, seperti budaya dan produknya. Kecederungan terhadap asing ini sangat terlihat diberbagai sektor. Yang paling terlihat adalah fashion. Pemuda Indonesia lebih tertarik menggunakan produk luar dari pada produk bangsa sendiri. Jika sudah menggunakan produk luar, mau tidak mau juga akan ikut budayanya juga. Sebagai contoh dalam fenomena K-Pop. K-Pop bukanlah budaya kita tapi sangat digandrungi, lebih dari kecintaannya terhadap pakaian adat. Padahal kita punya pakaian adat yang jelas-jelas bisa membedakan mana pria dan mana wanita.
Jika kedua hal itu sudah menjamur dan pemuda sudah bosan, biasanya mereka berkoar-koar menginginkan perubahan. Parahnya, pemerintah yang disalahkan atas ketikamajuan hidup mereka. Caranya menginginkan perubahan pun beragam mulai dari berdemo hingga merusak fasilitas umum. Contoh-contoh buruk semacam inilah yang menyebabkan generasi berikutnya ikut-ikutan. Remaja SMP dan SMA menangkap bahwa tindakan semacam itu adalah tindakan seorang naionalisme sejati. Bagi mereka nasionalisme adalah kekerasan. Nasionalisme adalah melawan pemerintahan.
Bagitulah mental pemuda Indonesia sekarang. Seenaknya sendiri namun minta disantuni. Hidup sejahtera sesuai hawa nafsunya. Tidak heran jika wajah Indonesia seperti sekarang ini. tidak punya daya saing dengan dengan bangsa lain. Sekalinya ada, kurang terkenal. Kalah saing dengan selebritis pembuat kontroversi. Karena hal bodoh semacam itulah banyak pemuda yang banting stir menjadi selebritis. Karena menjadi selebritis kebodohan mereka lebih diakui. Bukan hanya diakui melainkan dihargai, dipuja-puja dan juga banyak uang. Kalah terkenal dengan Nelson Tansu Lemas, Khoiril Anwar dan Muhammad Arif Budiman.
Kesmimpulan sederhana dari masalah diatas adalah bangsa kita dijajah oleh diri kita sendiri. Yang membuat Indonesia masih terjajah padahal sudah merdeka adalah rakyatnya sendiri. Diri kita adalah penjajah ulung, lebih ulung dari Belanda dan Jepang. Karena metode dan strategi penjajahan terkesan nikmat hingga kita sendiri tidak sadar kalau sedang di jajah. Memang benar sabda Rosululloh, jika jihat terbesar adalah melawan diri sendiri.

0 komentar:

Post a Comment

Please Coment yang baik saja. terimakasih :-)

Tawangharjo.com

Iklan Layang