Home » , » Aku Menjadi Kita

Aku Menjadi Kita

Hari raya Idul Adha membawa berkah dan hikmah bagi yang merayakan. Membawa berkah karena untuk warga ndeso seperti saya ini bisa makan daging sepuasnya. Serta hikmah, karena jika ditijau dari beberapa sudut, sungguh hari Raya Kurban terkandung banyak sekali pelajaran terutama bagi para birokrasi dan politisi. Jiwa ke-aku-aku-an mereka belakangan ini semakin terlihat belakangan ini. yang sedang hangat tentu saja pada pemilihan Ketua DPR dan MPR.

ari raya Idul Adha membawa berkah dan hikmah bagi yang merayakan. Membawa berkah karena untuk warga ndeso seperti saya ini bisa makan daging sepuasnya. Serta hikmah, karena jika ditijau dari beberapa sudut, sungguh hari Raya Kurban terkandung banyak sekali pelajaran terutama bagi para birokrasi dan politisi. Jiwa ke-aku-aku-an mereka belakangan ini semakin terlihat belakangan ini. yang sedang hangat tentu saja pada pemilihan Ketua DPR dan MPR.

Jauh berabat-abat yang lalu “kurban sejati” sudah diteladankan oleh Nabi Ibrahim As. Manakala beliau menanti-nanti putra pertamanya selama berpuluh-puluh tahun yang bernama Ismail, dengan hak prerogratifnya Alloh, Dia menyuruh Sang Nabi untuk menyemb3lihnya. Perintah itu pastiah bukan tanpa alasan. 

Pasalnya saat itu kasih sayang Ibrahim kepada putranya amatlah besar. Tentu saja Alloh tidak akan membiarkan hal semacam itu terjadi. Karena terlalu mencintai sesuatu yang bersifat fana tidak dibenarkan oleh Nya. Pada akhir cerita Alloh akhirnya tidak sampai hati melihat Ibrahim terisak-isak dan Dia menggantinya dengan kambing.
Jika kita menganalogikan kisah tersebut dengan jaman sekarang, umpama kita adalah Ibrahim, Ismail adalah harta dan tahta, sedangkan kambing adalah kebahagiaan betapa beruntungnya kita punya Alloh. Banyak dari kita yang pontang-panting kerja untuk mencari harta dengan berbagai alasan. Dan kebanyaka orang alasanya untuk hidup senang, kemudian mereka mendapatkannya. 

Dengan uang mereka merealisasikan alasannya tanpa memperdulikan siapa Sang Maha Pemberi harta. Tentu saja Alloh Cemburu, lebih jauh lagi mungkin tersinggung karena hampir disetarakan derajatnya oleh harta. Maka dari itu Alloh memperingatkan manusia dengan berbagai masalah dan ujian yang tidak pernah absen kepada Indonesia ini. parahnya, kecemburuan Alloh disalahartikan sebagai kemarahan yang meledak-ledak dan Alloh sudah pesimis terhadap kita yang bergelar “manusia.”
Seyogyanya kita patut bersyukur. Karena dengan kecemburuanNya kita disayang, karena kecemburuanNya kita masih dipersulahkan untuk untuk bertobat, juga karena kecemburanNya kita masih mendapat signal untuk masuk surga. Sungguh masih terasa aneh jika menafsirkan kecemburuan itu sebagai sebuah amarah. Justru akan terasa lebih aneh jika masalah itu tidak datang, sementara para manusia terus saja berbuat salah. Pertanyaan yang patut disematkan adalah, apakah Alloh masih sayang dan peduli terhadap kita ?.
Mari berlogika dasar, cinta itu membutuhkan pengorbanan. Pengeborbanan disini bisa diartikan merelakan sesuatu yang baik untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Seperti contoh Nabi Ibrahim tadi yang hendak menyemb3lih putra semata wayangnya. Beliau mengorbankan sesuatu yang baik (anaknya) untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik (ridho Alloh).
Andai saja masyarakat Indonesia mempunyai jiwa kurban sejati dalam dirinya, pastilah akan maju Indonesia. Ketika aku bertransformasi menjadi kita, tidak ada lagi perpecahan, tidak ada lagi kekerasan dan tidak ada lagi perebutan kekuasaan. 

Sulit untuk melakukan semua itu ditengah majemuknya rakyat Indonesia dan ditengah banyaknya penganut kapitalisme. Paham kapitaslisme sungguh tidak cocok untuk Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Terbukti dengan makin jauhnya kesenjangan antara si kaya dan si miskin.
Sejalan dengan hal diatas. Sejenak mari renungkan sabda Kanjeng Nabi Muhammad. “Makanlah selagi kalian lapar, dan berhentilah sebelum kenyang.” Jika ditelisik lebih jauh, sabda Nabi bukan saja untuk para pelaku makan. Melainkan juga untuk pelaku pencari harta. 

Lebih jauh lagi menurut Cak Nun, makan direflesikan sebagai mencari harta dan berhenti sebelum kenyang diasumsikan perintah untuk berhenti mencari harta. Mancari harta itu secukupnya saja karena harta tidak dibawa ke alam kekekalan. Harta hanya sebagai alat untuk dekat dengan Alloh. Bukan jauh dari Alloh, apalagi menyetarakannya.
Berkurban memang tidak difatwa wajib. Berkorban hanya kesadaran makhluk yang bernama manusia untuk menjalankan tugas sejati dari-Nya, sebagai kholifah (pemimpin). Kita semua adalah pemimpin, namun alangkah beruntungnya kita karena masih memimpin keluarga, minimal diri sendiri. 

Bagaimana dengan para pemimpin birokrasi kita yang memimpin ratusan ribu orang. Betapa banyak yang harus mereka kurbankan. Mulai dari pikiran, waktu, tenaga dan lain sebagainya. Karena jasa pengorbanan yang luar biasa itu pantaslah jika para pejabat itu menggunakan fasilitas mewah seperti mobil dan rumah yang mana uang itu berasal dari rakyat. 

Penulis: Fajar Arianto

Baca Juga:

0 komentar:

Post a Comment

Please Coment yang baik saja. terimakasih :-)

Tawangharjo.com

Iklan Layang