Home » » Ganefo. Sejarah Dahsyat Yang Terlupakan

Ganefo. Sejarah Dahsyat Yang Terlupakan

Games Of New Emerging Force (Ganefo) ialah puing-puing sejarah yang sudah terlupakan. Tidak banyak yang tau apa itu Ganefo. Padahal sebenarnya, Ganefo adalah tonggak sejarah olahraga Indonesia. Kala itu, tepatnya 10 Nopember 1963, dikawasan Gelora Bung Karno rakyat sangat antusias menggelar pembukaan Ganefo. 

Ganefo adalah kejuaraan olahraga ala negara- negara anti imperiaslisme yang diikuti oleh 2.200 atlit dari 48 negara (ada juga yang menyebut 51 negara) dimana berasal dari Asia, Afrika, Amerika Latin dan Eropa Timur. Ganefo sendiri sering disebut Olympiade Tandingan karena jumlah peserta dan cabang olahraganya sangat banyak, hampir menyaingi Olympiade Internasional. Ganefo mengambil Semboyan, Maju Terus Pantang Mundur.

Sedikit mengulas latar belakang Ganefo. Untuk pertama kalinya Indonesia berani berkonsep dalam memandang Dunia. Bung Karno menyatakan tantang Nefo dan Olfedo. Nefo ialah The New Emerging Force mewakili kekuatan yang sedang tumbuh, seperti negara-negara Asia, Afrika, Amerika Latin yang berusaha keluar dari cengkraman neo-kolonialisme, imperialisme kemudian membentuk tata Dunia baru tanpa exploitation. 

Sedangkan Oldefo ialah The Esthablished Force, mewakili negeri-negeri imperialis dan kekuatan lama yang semakin dekaden. Ketika itu Bung Karno yakin bahwa selain untuk kesehatan jasmani, olahraga juga dapat membangun mental dan rohani yang efektif. Beliau juga meyakini jika olahraga juga merupakan sarana untuk membangun bangsa yang berkarakter.
Keseriusan Bung Karno ini dipertegas dengan dibentuknya kurikulum di Sekolah-Sekolah dan menggecarkan kegiatan olahraga ditangan rakyat. Selain itu Bung Karno berniat menjadi ajang kejuaraan olahraga untuk memajukan nama Indonesia di Dunia Internasional, padahal saat itu Indonesia sudah mengikuti Asian Games, tapi tidak kata Bung Karno. 

Dengan lantang beliau katakan, kita harus mengangkat kita punya nama. Nama yang tiga setengah abad tenggelam dalam kegelapan. Tegasnya. Setelah mengalahkan Pakistan dalam pemungutan suara, Indonesia berhasil menjadi tuan rumah Asian Games-IV. Karena ketiadaan biaya Indonesia meminjam 105 juta dollar AS kepada Uni Soviet dan akan dibayar dengan karet alam dalam tempo dua tahun.
Usaha Bung Karno tidak sia-sia. Indonesia berhasil membangun  kompleks olahraga terbesar se Asia Tenggara dengan stadion berkapasitas 100.000 penonton. Stadion renang, stadion Madya, Stadion Tenis dan Gedung Basket selama 2 setengah tahun. Diajang Asia Games itu Indonesia berhasil menunjukkan tajinya dengan menempati urutan kedua perolehan medali setelah Jepang. Sementara itu karena sikap Indonesia yang keras, menentang kepesertaan Israel dan Taiwan maka Komite Olympiade Internasional (IOC) mencabut sementara keanggotaan Indonesia. Indonesia menganggap organisasi tersebut sebagai kepanjangan tangan dari neo-kolonialisme dan imperiaisme.
Indonesia semakin tersentak karena hal itu. Bung Karno memerintahkan Maladi selaku Menteri Olahraga untuk mengundang  12 negara untuk menghadiri Ganefo di Jakarta. Diantaranya RRT, USSR, Pakistan, Kamboja, Irak, Vietnam Utara dan Mali. Dalam forum itu Indonesia menegaskan arti pentingnya melawan Olyimpiade Internasioal yang sejatinya adalah alat Imperialisme. Dan saat itulah Ganefo pertama diadakan. 
Setelah mengalami perjuangan yang berat akhirnya Indonesia berhasil menempati urutan ketiga setelah RRT dan USSR dengan perolehan 21 emas, 25 perak dan 35 perunggu. Hebatnya Ganefo dibanding Olympiade Internasional adalah Ganefo dibasiskan untuk memperkuat persahabatan, persaudaraan serta solidaritas, sedangkan Olympiade Internasional hanya berbasis kompetisi murni mencari juara.

Baca Juga:
Aku Menjadi Kita
Ketika Kebodohan Menjadi Tuhan
Pahlawan Untuk Diri Sendiri


Begitulah sejarah dahsyatnya ganefo yang sekarang sudah terlupakan. Sejarah yang menunjukkan gagahnya Indonesia dimata Dunia. Padahal semua tau betapa terpuruknya Indonesia kala itu. Pelajaran yang bisa dipetik dari sejarah yang terlupakan ini adalah kemartabatan ditengah keterpurukan. 

Jati diri indonesia muncul dengan gagahnya ketika menyaingi Olympiade Internasional dengan Ganefo nya. Keadaan yang terus ditekan malah membuat roh perubahan muncul. Dalam hal ini pemimpin negara mempunyai andil besar dalam menggerakkan rakyatnya untuk terus maju tanpa rasa takut. Gertakan tidak membuat nyali Bung Karno menciut sedikitpun.
Semoga jiwa dan roh kepemimpinan Bung Karno bisa terefleksi kepada penerusnya, Presiden Joko Widodo. Pun juga dengan semangat patriotik rakyat jaman dulu, semoga bisa terefleski juga kepada rakyat Indonesia diera sekarang. Begitu juga dengan para atlitnya yang selalu semangat mengharumkan nama baik negara. Jasmerah (Jangan sekali-kali Melupakan Sejarah).   

Penulis: Fajar Arianto

0 komentar:

Post a Comment

Please Coment yang baik saja. terimakasih :-)

Tawangharjo.com

Iklan Layang