Home » , » Ketika Kebodohan Menjadi Tuhan

Ketika Kebodohan Menjadi Tuhan

Anak merupakan aset yang paling berharga di Indonesia. Karena anak memiliki imajinasi yang kuat, dimana menurut Einstein adalah segalanya. Einstein mengatakan “logika bisa mengantarkanmu dari A ke B, tetapi imajinasi bisa mengantarkanmu dari A ke tak terhingga.” Orang bisa ke bulan awalnya berkat imajinasi. Segala macam teknologi yang ada dimuka Bumi Emaknya adalah imajinasi.
Ketika Kebodohan Menjadi Tuhan

Sejalan dengan quotes Einstein diatas. Kebanyakan kita, sekolah-sekolah lebih mengutamakan logika. Segala macam pelajaran dijejali kedalam otak anak yang justru mematikan imajinasi. Berangkat dari sekolah pukul 7 dan pulang pukul 12, belum lagi ada ekstrakulikuler dan les. Otak anak diperas sedemikian rupa, hanya demi kalimat “kamu harus pinter nak, biar papa dan mama bangga sama kamu.” Celakanya, kata “pintar” sendiri di Indonesia masih dalam arti sempit. Para orang tua menganggap anaknya pintar jika sudah mahir sains seperti, matematika, kimia dan fisika. 


Baca Juga:


Penyeimbangan logika dan imajinasi mutlak dilakukan. Menyederhanakan mata pelajaran yang banyak adalah salah satu caranya. Jangan membebani anak dengan segudang pelajaran yang bisa mematikan imajinasi mereka. Dunia anak memang Dunia bermain. Jadi, jika anak lebih suka bermain ketimbang belajar itu wajar. Tugas para orang tua dan guru adalah bagaimana memodivikasi belajar sebagai sebuah permainan. Mengubah midset anak, manakala mereka sedang bermain itu sebetulnya mereka sedang belajar. 
Satu hal yang penting selain menumbuhkan imajinasi adalah memuji. Memuji adalah suatu motivasi besar bagi anak sekaligus yang paling disenangi. Sebaliknya, hal yang paling dibenci anak adalah memaki. Jika anak berbuat salah dan para orang tua atau guru memarahinya, itu tindakan salah besar. 

Bukankah Rosullulloh menyuruh umatnya untuk tidak marah. Lebih banyak dipuji orang, si anak akan semakin suka dan termotivasi. Jika hal itu dilakukan, maka potensi anak akan semakin berkembang.
Sejalan dengan hal diatas, memberikan penghargaan kepada anak berprestasi adalah salah satu cara efisien. Banyak anak-anak Indonesia yang sukses menjuarai lomba dikancah Internasional. Sayangnya mereka kurang terkenal, kurang mendapat apresiasi dari masyarakat. Anak-anak yang membawa harum nama Indonesia itu kalah dengan anak-anak yang menang lomba kontes menyanyi dan kontes kecantikan. 

Padahal jebolan anak-anak kontes tersebut kelakukannya ketika diatas panggung cukup buruk. Bayangkan saja, mereka dipaksa meniru artis-artis dewasa yang notabene berpakaian tapi sebetulnya seperti tidak berpakaian. Tingkah polah mereka menjadi tidak beradap karena terlalu centil, genit dan alay. Sepertinya memang benar jika kebodohan lebih dihargai di Indonesia. Jika ingin terkenal, bertingkah bodoh saja.

Pro Anak 
Peran orang tua dan guru dituntut lebih hyperaktif dalam kasus ini. Beliau-beliau harus tahu potensi anak yang sebenarnya. Setiap anak memiliki potensi masing-masing. Orang tua dan guru diharapkan mengawal terus tumbuh kembang anak. Jika anak berbuat salah, jangan langsung dimarahi. Beri mereka arahan dan bimbingan dengan tidak terkesan menggurui. Karena sesungguhnya orang tua dan guru mempunyai fungsi ganda, yaitu sebagai teman.
Presiden terpilih dituntut tidak hanya pro buruh, pro rakyat melainkan juga pro anak. Jika anak memiliki daya kritis diatas rata-rata, pasti mereka berdemo menuntut contoh yang baik. Anak sedang mengalamai krisis suri tauladan akut. 

Setiap harinya dijejali acara-acara yang justru membodohkan mereka. Membuat mereka men Tuhankan kebodohan dari pada kepintaran. Membuat mereka men Tuhankan kontroversi dibanding prestasi. Jadi jangan salahkan anak-anak Indonesia jika kelakuan mereka kurang baik. Mental mereka bukan penjuang melainkan pecundang. 
Anak-anak Indonesia memang belum sepenuhnya merdeka. Meraka dijajah musuh dalam selimut. Dimana penjajahnya adalah orang dewasa itu sendiri. Mari tengok acara tv, begitu mudahnya orang dewasa itu mendapatkan uang dengan melakukan kebodohan, berdandan aneh, bertingkah konyol. Apa saja akan mereka lakukan, asalkan mendapat uang. 

Si anak yang menonton acara tersebut senyum-senyum mencerna racun yang orang dewasa sebarkan. Ketika kebodohan menjadi Tuhan, harga diri digadaikan, ketika kebodohan menjadi Tuhan, nasib bangsa terabaikan, dan jika kebodohan menjadi Tuhan, tunggulah kehancuran.

Baca Juga:
Menuju Mudik Sejati
Kembalikan Citra Guru

Aku Menjadi Kita

Penulis: Fajar Ariyanto

0 komentar:

Post a Comment

Please Coment yang baik saja. terimakasih :-)

Tawangharjo.com

Iklan Layang