Home » , » Menghilangkan Lingkaran Setan Dengan Kelembutan

Menghilangkan Lingkaran Setan Dengan Kelembutan

Konon, ilmu pedang yang tertinggi adalah ketika seseorang mampu menebas kapas tanpa mempengaruhi arah geraknya. Jika dilogika memang aneh. Bagaimana mungkin puncak kekuatan adalah kelembutan, bukan kekerasan. Ada lagi dalam dunia persialatan. Pendekar kelas teri jika bertarung membutuhkan senjata. Sedangkan yang Master, cukup dengan kedua tangannya. Sekali lagi, kelembutan menjadi puncaknya karena tanpa s3njata mustahil mengalahkan orang.
Begitu juga yang terjadi pada saat MOS (Masa Orientasi Siswa) dan Ospek. Jika masih menggunakan kekerasan, berarti orang itu berilmu rendah. Rendahnya ilmu menandakan rendahnya moral. Padahal jika moral rendah sudah dipastikan berkelakuan buruk. MOS dan Ospek yang sejatinya untuk memperkenalkan sekolah beserta seluruh yang ada didalamnya, malah menjadi ajang unjuk pamer kekuasaan dan kekuatan. 
Sungguh disayangkan bukan. Sebagai contoh di tahun 2013, Anindya Ayu Puspita siswi baru SMK N 1 Bantul meninggal karena kelelahan mengikuti kegiatan MOS, padahal hanya tidak membawa pakaian olahraga. Ada lagi Wisnu AnjarKusumo (17) mengenasan, tubuhnya babak belur lebam kebiruan, mahasiswa Sekolah Tinggi Sandi Negara itu diduga korban kekerasan saat sorientasi kampus. Harus ada peran nyata agar kasus semacam ini tidak terulang kembali.  
Peran serta Pendidik dalam hal ini sangat fundamental. Pasalnya, keduanya merupakan orang yang disegani ditempat, dimana MOS dan Ospek “nakal” dilakukan. Memberi nasehat, saran dan masukan adalah barang wajib. Langkah selanjutnya adalah memberi suri tauladan yang baik. Menunjukkan kepada anak didik arti dari sebuah kelembutan. Terakhir mengevaluasi. Jika terjadi pelanggaran, tindak yang tegas.
Kedua, peran orang tua. Ada dua istilah yang tepat. Satu, anak terlahir bagai kertas putih, orang tua yang pertama memberi warna. Dua, buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Bagaimana cara mendidik anak dan bagaimana cara memberi contoh adalah poin pentingnya. Kedua elemen tersebut akan membentuk tabiat anak. Bermoral atau tidak. Berkelakuan baik atau buruk.
Selanjutnya lingkungan. Jika orang tua yang pertama memberikan warna maka lingkungan yang kedua. Moral dan kelakuan bisa sewaktu-waktu berubah karena pengaruh lingkungan, terutama teman. Kebanyakan orang sekarang lebih suka berkumpul bersama teman dibanding dengan keluarga. Mengapa ?. Karena teman bisa lebih peka dan mengerti dari pada keluarga. Tidak buruk, hanya saja perlu diingat, tidak ada orang tua yang tega menjerumuskan anaknya.
Terakhir media. Kasar, galak dan suka menghukum adalah beberapa hal yang media tv ajarkan. Sinetron dengan lihai memanipulasi dengan lembut hal-hal diatas menjadi sangat menarik. Namun apa benar demikian. Jawabannya jauh panggang dari api. Padahal sudah jelas-jelas jika berbuatan itu salah.
Minimnya contoh yang baik menjadi salah satu masalahnya. Tidak ada cara lain kecuali menumbuhkan kesadaran para senior-senior. Kesadaran bahwa kekerasan itu buruk, baik perkataan maupun perbuatan. Dimulai dari diri sendiri dengan membangun moral dan kelakuan yang baik. Tenamkan jika balas dendam hanya akan memperburuk generasi-generasi dimasa mendatang.


Baca Juga:
Kembalikan Citra Guru
Aku Menjadi Kita
Ketika Kebodohan Menjadi Tuhan


Indonesia Bebas Kekerasan
Semua pihak harus bisa berpartisipasi agar bisa keluar dari lingkaran setan yang bernama balas dendam. Balas dendam hanya akan membentuk prahara baru yang bisa jadi, semakin buruk. Hanya dengan kelembutan hati dan kesadaran sikap, anak didik bisa keluar dari lingkaran ini. dimulai dari pribadi masing-masing untuk merubah itu semua. 
Untuk mencapai kelembutan hati dan kesadaran sikap kita butuh teman yang bernama iman. Iman akan selalu mengingatkan jika ada kesalahan. Iman akan selalu menuntun kejalan lurus dan masa depan cerah. Bulan ramadhan adalah momentum yang pas untuk memperkuat iman. Karena seringnya diuji, otomastis iman semakin kuat.
Hingga pada suatu ketika, peserta didik tidak lagi mengenal apa itu kekerasan dan hukuman. Yang ada hanya kebersamaan dalam sebuah keberagaman. Tercipta sebuah sistim pendidikan yang kondusif berbasis kelembutan hati. Senior dan junior tidak lagi mengenal kasta seperti yang selama ini terjadi. Dengan peduan IQ, EQ dan SQ yang sempurna akan melahirkan sarjana sarjana bertaraf internasional. Bukan sarjana muda yang Bang Iwan Fals nyanyikan.

Penulis: Fajar Arianto
  

Baca Juga:

0 komentar:

Post a Comment

Please Coment yang baik saja. terimakasih :-)

Tawangharjo.com

Iklan Layang