Home » , , » Pahlawan Untuk Diri Sendiri

Pahlawan Untuk Diri Sendiri

'Pahlawan'. Sebuah kata yang apabila mendengar langsung terpikir pemberani, gagah, kuat dan bermental baja. Kurang tepat rasanya jika dihari Pahlawan hanya kita kenang namun tidak diilhami perjuangannya. Berbagai upaya telah para Pahlawan lakukan untuk negeri ini. 10 Nopember 1945 silam lebih tepatnya. Seorang pemuda luar biasa yang bernama Bung Tomo memporak-porandakan Belanda dan Inggris. Dengan 3 kata yang melegenda. Merdeka atau Mati. Apabila kata itu diucapkan oleh pemuda sekarang lain ceritanya. Mungkin malah akan ditertawakan. Tapi ini Bung Tomo. Dengan segala pengorbanan dan integritas. Didikasinya yang patut diinspirasi generasi penerusnya. 
Pahlawan Untuk Diri Sendiri

Tidaklah usah jauh-jauh. Kita cukup menjadi Pahlawan untuk diri kita sendiri. Seperti kata Rosul, jika perang terbesar adalah perang melawan diri kita sendiri. Bung Tomo pun juga demikian sewaktu berperang melawan penjajah. Beliau tidak serta merta memikirkan dirinya sendiri. Yang ada disetiap kepala beliau adalah Negara. 

Dengan semangat yang luar biasa hebat beliau mengatakan. Merdeka atau Mati. Tiga kata yang membuat semangat jihat bela Negara arek-arek Surabaya memuncak. Nyawapun seperti sudah tidak ada harganya bagi beliau dan kawan-kawannya. Hanya demi merobek bendera biru di Hotel Yamato
Yang perlu digaris bawahi adalah hilangnya jiwa egosentris dalam sanubari para Pahlawan. Padahal itu susah sekali untuk diterapkan. Lantas mengapa mereka bisa menghilangkannya. Padahal kita semua tahu, mereka tidak berpendidikan. Juga tidak makan makanan yang bergizi macam kita ini. Satu hal yang pasti. Mereka merasakan rasa sakit yang sama, merasakan susah dan penderitaan yang sama. 

Akhirnya mereka menumpahkan perasaan itu diwadah yang sama pula, yaitu hati mereka. Disitulah semangat nasioanlisme sejati muncul. Semangat itu pula yang jauh lebih penting dari otak-otak lulusan S1, S2 bahkan Profesor sekalipun.
Satu lagi yang unik dari para Pahlawan adalah kebodohan mereka justru menjadi kekuatan. Mereka mungkin tidak mengenal Undang-Undang, Pancasila, KUHP, yang mereka tahu hanya merdeka. Ketidaktahuan mereka itulah yang membuatnya fokus untuk merebut kemerdekaan ditangan Belanda dan Inggris. 

Dalam kasus ini, diera modern bisa terefleksi oleh orang-orang yang tidak berpendidikan tinggi tapi sukses. Seperti contoh Bu Menteri Susi yang naik daun belakangan ini. Seorang Menteri nyentrik nan pekerja keras itu hanya lulusan SMP. Itu membuktikan jika orang yang berpendidikan minim bisa fokus dalam mengejar impiannya dan yang berpendidikan tinggi namun banyak pikir untuk melangkah belum tentu. Begitu juga Pak Dahlan Iskan yang hanya lulusan Unversitas Kehidupan.
Diera para kapitalis sekarang ini, dasarnya saja sudah roboh yaitu egosentris. Betapa banyak mereka-mereka yang taat kepada nafsu untuk kepentingan perutnya sendiri. Ini pula yang menyebabkan kesenjangan terus saja mengalami peningkatan. 

Masyarakat modern ini tidak lagi menikmati nikmatnya berbagi rasa sakit. Berbagi duka lara untuk dirasakan bersama. Para birokrat mengajarkan betapa kekuasaan adalah Tuhan yang patut kita nomorsatukan. Sidang yang begitu terhormat malah seperti pemilihan ketua kelas Taman Kanak-kanak.
Jiwa yang sudah diliputi ego yang tinggi akan menimbulkan rasa ingin diakui yang tinggi pula. Nah, ini yang bahaya. Banyak orang yang ingin diakui keeksisannya di Dunia ini. Kadang hal itu pula lah yang justru membuat kerusuhan. Seperti contohnya genk motor. Kebanyakan dari pemuda-pemuda itu kurang kasih sayang. Lantaran  itulah mereka menunjukan eksistensi dirinya dengan melakukan tindakan kriminalitas yang berujung perampokan, pengrusakan, dan pencurian. 

Orang macam itulah yang merusak citra pemuda. Kekuatan yang seharusnya dimanfaatkan untuk membela Negara malah justru merusak Negara.
Seperti seyogyanya ulang tahun-ulang tahun lalu. Ulang tahun kali ini semoga menjadi tonggak kebangkitan pemuda untuk menumbuhkan jiwa Pahlawan. Rubah mental yang tadinya bermentak sinetron menjadi patriot. 

Biarkan saja media mengajarkan untuk menjadi pemuda cengeng, lakukan filterisasai untuk menghalau itu semua. Tidak perlu menjadi Bung Karno atau Bung Tomo untuk dikenang sebagai Pahlawan. 

Cukup dengan mempahlawani diri sendiri sudah cukup. Menjadi pribadi yang layak saing. Tidak perlu terlalu pandai yang penting punya tekad dan semangat untuk meraih mimpi. Selamat Hari Pahlawan wahai pemuda. 
Penulis: Fajar Ariyanto

Baca Juga:
2 Sehat 3 Sempurna
Anak Infestasi Utama
Adalah Lelaki Sejati
Menuju Mudik Sejati
Kembalikan Citra Guru

Aku Menjadi Kita
Ketika Kebodohan Menjadi Tuhan

0 komentar:

Post a Comment

Please Coment yang baik saja. terimakasih :-)

Tawangharjo.com

Iklan Layang