Hari Tata Ruang Nasional

Tidak banyak yang tahu apa itu Hari Tata Ruang Nasional. Wajar saja karena Hari Tata Ruang Nasional baru diperingati empat tahun belakangan ini. Tata Ruang Nasiona sudah berada dibawah payung hukum, yakni dengan UU No 26 Tahun 2007. 

Melalui peraturan tersebut, pemerintah berupaya mendorong pemanfaatan ruang di Indonesia sesuai dengan kapasitas daya dukungnya. Meskipun jarang diperhatikan masyarakat, tapi sebetulnya Tata Ruang ini sangat penting dalam membangun Indonesia supaya menjadi seimbang, terutama yang ada di Kota dengan yang di Desa. Serta terjadi kesetaraan antara keduanya. 

Namun nyatanya tidak demikian. Biasaya terdapat perbedaan masalah yang ada di Kota maupun yang ada di Desa. Di Kota yang pembangunan infrastrukturnya baik, biasanya tingkat keacuh tak acuhnya tinggi. 

Maka tidak jarang banyak sekali kesemrawutan dijalan raya. Bisa ditengok berapa puluh mobil dan motor tidak taat peraturan lalu lintas. Wajah Kota-Kota besar di Indonesia kacau karena setiap hari mempertontonkan keadaan yang demikian.
Kurangnya lahan hijau mengekor dibelakangnya. Kesumpekan suasana Kota dikarenakan minimnya lahan hijau. Lahan yang sebetulnya vital bagi para penduduknya. Idelanya ruang terbuka hijau untuk ukuran sebuat Kota adalah 30 persen. 

Dalam kasus ini hendaknya pemerintah yang bersangkutan mengkaji kembali dalam hal mempermudah ijin membangun pusat perbelanjaan atau moll. Secara kapitalis memang menguntungkan namun secara sosialis tidak. Pembangunan pusat perbelanjaan hanya akan memperburuk Indonesia sebagai yang berpolusi didunia, terutama Jakarta.
Berbeda dengan yang ada di Kota, permasalahan yang ada di Desa terkait infrastruktur. Jalanan yang ada di Desa banyak yang berlubang. Banyak sekali jalanan yang belum diaspal, sekalinya sudah banyak yang hancur. 

Salah satu penyebabnya mungkin kontur tanah yang tidak cocok jika diaspal. Namun apapun itu pembangunan infrastruktur harus adil dan seimbang. Jangan sampai hanya Kota saja yang diperhatikan, sementara Desa diabaikan. Namun ada faedah dari ketidaksempurnaan Tata Ruang Desa terkait jalanan yang rusak. Tingkat kecelakaan di Desa amatlah minim. Ini mungkin terjadi lantaran tingkat kehati-hatian warga sangatlah tinggi.

Baca Juga:
Kembalikan Citra Guru
Aku Menjadi Kita
Ketika Kebodohan Menjadi Tuhan
Pahlawan Untuk Diri Sendiri
Ganefo. Sejarah Dahsyat Yang Terlupakan


Juga tidak kalah penting adalah Perguruan Tinggi. Lagi-lagi infrastrukutur yang menjadi keladinya. Efek ketimpangan Tata Ruang yang tidak seimbang ini berpengaruh disektor pendidikan. Berapa banyak pemuda-pemuda yang harus merantau untuk menuntut ilmu di Kota, dikarenakan tidak adanya Perguruan Tinggi. 

Perguruan Tinggi di Kota padahal sudah banyak tapi toh tetap laku juga, meskipun tidak favorit. Kenapa tidak dipindahkan saja di Desa-Desa yang membutuhkan Perguruan Tinggi. Di Desa jauh lebih membutuhkan, terutama yang berotak Habibie tapi semiskin kuli. Desa sangat membutuhkan wadah untuk mengembangkan bakat dan minat, tidak hanya di Kota.
Solusi untuk pemerintah dihari Tata Ruang ini adalah keseimbangan infrastruktur antara di Kota dan di Desa. Sesuai yang diamanatkan Pancasila, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Memang perbedaan antara Kota dan Desa sangat signifikan. Akan tetapi jika semua sesuai porsi maka akan sangat maksimal pertumbuhannya. Tidak kurang dan tidak lebih. Karena suatu yang berlebihan itu tidak baik. Tertawa berlebihan pun bisa menyebabkan kematian. Apalagi  polusi yang berlebihan.
Masyarakat harus sadar diri jika kelak pemerintahan yang baru bisa memfasiliasi dengan baik. Kita yang konon sebagai rasa diera demokrasi ini harus bisa menunjukkan kewibawaannya. Segara fasilitas umum yang menyangkut Tata Ruang Nasional hendaknya dijaga betul-betul. 

Kalau perlu kita turut membantu dalam pelaksanaannya. Jangan menunggu pemerintah. Kita tunjukan jiwa nasionalisme. Jiwa patriotisme yang mulai dihidupkan lagi oleh Presiden Joko Widodo dengan revolusi mental nya.
Hingga akhirnya Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia bukan hanya isapan jempol belaka. Dihari Tata Ruang Nasional ini mari, menata ulang inftastruktur dan manusianya. Jangan tunggu perubahan itu terjadi, tapi jemputlah perubahan itu sendiri dengan tekad dan semangat juang. 

Karena Tuhan tidak akan mengubah nasip suatu kaum, kecuali kaum tersebut mau mengubahnya nasip sendiri.        

Penulis: Fajar Arianto

Ganefo. Sejarah Dahsyat Yang Terlupakan

Games Of New Emerging Force (Ganefo) ialah puing-puing sejarah yang sudah terlupakan. Tidak banyak yang tau apa itu Ganefo. Padahal sebenarnya, Ganefo adalah tonggak sejarah olahraga Indonesia. Kala itu, tepatnya 10 Nopember 1963, dikawasan Gelora Bung Karno rakyat sangat antusias menggelar pembukaan Ganefo. 

Ganefo adalah kejuaraan olahraga ala negara- negara anti imperiaslisme yang diikuti oleh 2.200 atlit dari 48 negara (ada juga yang menyebut 51 negara) dimana berasal dari Asia, Afrika, Amerika Latin dan Eropa Timur. Ganefo sendiri sering disebut Olympiade Tandingan karena jumlah peserta dan cabang olahraganya sangat banyak, hampir menyaingi Olympiade Internasional. Ganefo mengambil Semboyan, Maju Terus Pantang Mundur.

Sedikit mengulas latar belakang Ganefo. Untuk pertama kalinya Indonesia berani berkonsep dalam memandang Dunia. Bung Karno menyatakan tantang Nefo dan Olfedo. Nefo ialah The New Emerging Force mewakili kekuatan yang sedang tumbuh, seperti negara-negara Asia, Afrika, Amerika Latin yang berusaha keluar dari cengkraman neo-kolonialisme, imperialisme kemudian membentuk tata Dunia baru tanpa exploitation. 

Sedangkan Oldefo ialah The Esthablished Force, mewakili negeri-negeri imperialis dan kekuatan lama yang semakin dekaden. Ketika itu Bung Karno yakin bahwa selain untuk kesehatan jasmani, olahraga juga dapat membangun mental dan rohani yang efektif. Beliau juga meyakini jika olahraga juga merupakan sarana untuk membangun bangsa yang berkarakter.
Keseriusan Bung Karno ini dipertegas dengan dibentuknya kurikulum di Sekolah-Sekolah dan menggecarkan kegiatan olahraga ditangan rakyat. Selain itu Bung Karno berniat menjadi ajang kejuaraan olahraga untuk memajukan nama Indonesia di Dunia Internasional, padahal saat itu Indonesia sudah mengikuti Asian Games, tapi tidak kata Bung Karno. 

Dengan lantang beliau katakan, kita harus mengangkat kita punya nama. Nama yang tiga setengah abad tenggelam dalam kegelapan. Tegasnya. Setelah mengalahkan Pakistan dalam pemungutan suara, Indonesia berhasil menjadi tuan rumah Asian Games-IV. Karena ketiadaan biaya Indonesia meminjam 105 juta dollar AS kepada Uni Soviet dan akan dibayar dengan karet alam dalam tempo dua tahun.
Usaha Bung Karno tidak sia-sia. Indonesia berhasil membangun  kompleks olahraga terbesar se Asia Tenggara dengan stadion berkapasitas 100.000 penonton. Stadion renang, stadion Madya, Stadion Tenis dan Gedung Basket selama 2 setengah tahun. Diajang Asia Games itu Indonesia berhasil menunjukkan tajinya dengan menempati urutan kedua perolehan medali setelah Jepang. Sementara itu karena sikap Indonesia yang keras, menentang kepesertaan Israel dan Taiwan maka Komite Olympiade Internasional (IOC) mencabut sementara keanggotaan Indonesia. Indonesia menganggap organisasi tersebut sebagai kepanjangan tangan dari neo-kolonialisme dan imperiaisme.
Indonesia semakin tersentak karena hal itu. Bung Karno memerintahkan Maladi selaku Menteri Olahraga untuk mengundang  12 negara untuk menghadiri Ganefo di Jakarta. Diantaranya RRT, USSR, Pakistan, Kamboja, Irak, Vietnam Utara dan Mali. Dalam forum itu Indonesia menegaskan arti pentingnya melawan Olyimpiade Internasioal yang sejatinya adalah alat Imperialisme. Dan saat itulah Ganefo pertama diadakan. 
Setelah mengalami perjuangan yang berat akhirnya Indonesia berhasil menempati urutan ketiga setelah RRT dan USSR dengan perolehan 21 emas, 25 perak dan 35 perunggu. Hebatnya Ganefo dibanding Olympiade Internasional adalah Ganefo dibasiskan untuk memperkuat persahabatan, persaudaraan serta solidaritas, sedangkan Olympiade Internasional hanya berbasis kompetisi murni mencari juara.

Baca Juga:
Aku Menjadi Kita
Ketika Kebodohan Menjadi Tuhan
Pahlawan Untuk Diri Sendiri


Begitulah sejarah dahsyatnya ganefo yang sekarang sudah terlupakan. Sejarah yang menunjukkan gagahnya Indonesia dimata Dunia. Padahal semua tau betapa terpuruknya Indonesia kala itu. Pelajaran yang bisa dipetik dari sejarah yang terlupakan ini adalah kemartabatan ditengah keterpurukan. 

Jati diri indonesia muncul dengan gagahnya ketika menyaingi Olympiade Internasional dengan Ganefo nya. Keadaan yang terus ditekan malah membuat roh perubahan muncul. Dalam hal ini pemimpin negara mempunyai andil besar dalam menggerakkan rakyatnya untuk terus maju tanpa rasa takut. Gertakan tidak membuat nyali Bung Karno menciut sedikitpun.
Semoga jiwa dan roh kepemimpinan Bung Karno bisa terefleksi kepada penerusnya, Presiden Joko Widodo. Pun juga dengan semangat patriotik rakyat jaman dulu, semoga bisa terefleski juga kepada rakyat Indonesia diera sekarang. Begitu juga dengan para atlitnya yang selalu semangat mengharumkan nama baik negara. Jasmerah (Jangan sekali-kali Melupakan Sejarah).   

Penulis: Fajar Arianto

Menghilangkan Lingkaran Setan Dengan Kelembutan

Konon, ilmu pedang yang tertinggi adalah ketika seseorang mampu menebas kapas tanpa mempengaruhi arah geraknya. Jika dilogika memang aneh. Bagaimana mungkin puncak kekuatan adalah kelembutan, bukan kekerasan. Ada lagi dalam dunia persialatan. Pendekar kelas teri jika bertarung membutuhkan senjata. Sedangkan yang Master, cukup dengan kedua tangannya. Sekali lagi, kelembutan menjadi puncaknya karena tanpa s3njata mustahil mengalahkan orang.
Begitu juga yang terjadi pada saat MOS (Masa Orientasi Siswa) dan Ospek. Jika masih menggunakan kekerasan, berarti orang itu berilmu rendah. Rendahnya ilmu menandakan rendahnya moral. Padahal jika moral rendah sudah dipastikan berkelakuan buruk. MOS dan Ospek yang sejatinya untuk memperkenalkan sekolah beserta seluruh yang ada didalamnya, malah menjadi ajang unjuk pamer kekuasaan dan kekuatan. 
Sungguh disayangkan bukan. Sebagai contoh di tahun 2013, Anindya Ayu Puspita siswi baru SMK N 1 Bantul meninggal karena kelelahan mengikuti kegiatan MOS, padahal hanya tidak membawa pakaian olahraga. Ada lagi Wisnu AnjarKusumo (17) mengenasan, tubuhnya babak belur lebam kebiruan, mahasiswa Sekolah Tinggi Sandi Negara itu diduga korban kekerasan saat sorientasi kampus. Harus ada peran nyata agar kasus semacam ini tidak terulang kembali.  
Peran serta Pendidik dalam hal ini sangat fundamental. Pasalnya, keduanya merupakan orang yang disegani ditempat, dimana MOS dan Ospek “nakal” dilakukan. Memberi nasehat, saran dan masukan adalah barang wajib. Langkah selanjutnya adalah memberi suri tauladan yang baik. Menunjukkan kepada anak didik arti dari sebuah kelembutan. Terakhir mengevaluasi. Jika terjadi pelanggaran, tindak yang tegas.
Kedua, peran orang tua. Ada dua istilah yang tepat. Satu, anak terlahir bagai kertas putih, orang tua yang pertama memberi warna. Dua, buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Bagaimana cara mendidik anak dan bagaimana cara memberi contoh adalah poin pentingnya. Kedua elemen tersebut akan membentuk tabiat anak. Bermoral atau tidak. Berkelakuan baik atau buruk.
Selanjutnya lingkungan. Jika orang tua yang pertama memberikan warna maka lingkungan yang kedua. Moral dan kelakuan bisa sewaktu-waktu berubah karena pengaruh lingkungan, terutama teman. Kebanyakan orang sekarang lebih suka berkumpul bersama teman dibanding dengan keluarga. Mengapa ?. Karena teman bisa lebih peka dan mengerti dari pada keluarga. Tidak buruk, hanya saja perlu diingat, tidak ada orang tua yang tega menjerumuskan anaknya.
Terakhir media. Kasar, galak dan suka menghukum adalah beberapa hal yang media tv ajarkan. Sinetron dengan lihai memanipulasi dengan lembut hal-hal diatas menjadi sangat menarik. Namun apa benar demikian. Jawabannya jauh panggang dari api. Padahal sudah jelas-jelas jika berbuatan itu salah.
Minimnya contoh yang baik menjadi salah satu masalahnya. Tidak ada cara lain kecuali menumbuhkan kesadaran para senior-senior. Kesadaran bahwa kekerasan itu buruk, baik perkataan maupun perbuatan. Dimulai dari diri sendiri dengan membangun moral dan kelakuan yang baik. Tenamkan jika balas dendam hanya akan memperburuk generasi-generasi dimasa mendatang.


Baca Juga:
Kembalikan Citra Guru
Aku Menjadi Kita
Ketika Kebodohan Menjadi Tuhan


Indonesia Bebas Kekerasan
Semua pihak harus bisa berpartisipasi agar bisa keluar dari lingkaran setan yang bernama balas dendam. Balas dendam hanya akan membentuk prahara baru yang bisa jadi, semakin buruk. Hanya dengan kelembutan hati dan kesadaran sikap, anak didik bisa keluar dari lingkaran ini. dimulai dari pribadi masing-masing untuk merubah itu semua. 
Untuk mencapai kelembutan hati dan kesadaran sikap kita butuh teman yang bernama iman. Iman akan selalu mengingatkan jika ada kesalahan. Iman akan selalu menuntun kejalan lurus dan masa depan cerah. Bulan ramadhan adalah momentum yang pas untuk memperkuat iman. Karena seringnya diuji, otomastis iman semakin kuat.
Hingga pada suatu ketika, peserta didik tidak lagi mengenal apa itu kekerasan dan hukuman. Yang ada hanya kebersamaan dalam sebuah keberagaman. Tercipta sebuah sistim pendidikan yang kondusif berbasis kelembutan hati. Senior dan junior tidak lagi mengenal kasta seperti yang selama ini terjadi. Dengan peduan IQ, EQ dan SQ yang sempurna akan melahirkan sarjana sarjana bertaraf internasional. Bukan sarjana muda yang Bang Iwan Fals nyanyikan.

Penulis: Fajar Arianto
  

Baca Juga:

Ketika Kebodohan Menjadi Tuhan

Anak merupakan aset yang paling berharga di Indonesia. Karena anak memiliki imajinasi yang kuat, dimana menurut Einstein adalah segalanya. Einstein mengatakan “logika bisa mengantarkanmu dari A ke B, tetapi imajinasi bisa mengantarkanmu dari A ke tak terhingga.” Orang bisa ke bulan awalnya berkat imajinasi. Segala macam teknologi yang ada dimuka Bumi Emaknya adalah imajinasi.
Ketika Kebodohan Menjadi Tuhan

Sejalan dengan quotes Einstein diatas. Kebanyakan kita, sekolah-sekolah lebih mengutamakan logika. Segala macam pelajaran dijejali kedalam otak anak yang justru mematikan imajinasi. Berangkat dari sekolah pukul 7 dan pulang pukul 12, belum lagi ada ekstrakulikuler dan les. Otak anak diperas sedemikian rupa, hanya demi kalimat “kamu harus pinter nak, biar papa dan mama bangga sama kamu.” Celakanya, kata “pintar” sendiri di Indonesia masih dalam arti sempit. Para orang tua menganggap anaknya pintar jika sudah mahir sains seperti, matematika, kimia dan fisika. 


Baca Juga:


Penyeimbangan logika dan imajinasi mutlak dilakukan. Menyederhanakan mata pelajaran yang banyak adalah salah satu caranya. Jangan membebani anak dengan segudang pelajaran yang bisa mematikan imajinasi mereka. Dunia anak memang Dunia bermain. Jadi, jika anak lebih suka bermain ketimbang belajar itu wajar. Tugas para orang tua dan guru adalah bagaimana memodivikasi belajar sebagai sebuah permainan. Mengubah midset anak, manakala mereka sedang bermain itu sebetulnya mereka sedang belajar. 
Satu hal yang penting selain menumbuhkan imajinasi adalah memuji. Memuji adalah suatu motivasi besar bagi anak sekaligus yang paling disenangi. Sebaliknya, hal yang paling dibenci anak adalah memaki. Jika anak berbuat salah dan para orang tua atau guru memarahinya, itu tindakan salah besar. 

Bukankah Rosullulloh menyuruh umatnya untuk tidak marah. Lebih banyak dipuji orang, si anak akan semakin suka dan termotivasi. Jika hal itu dilakukan, maka potensi anak akan semakin berkembang.
Sejalan dengan hal diatas, memberikan penghargaan kepada anak berprestasi adalah salah satu cara efisien. Banyak anak-anak Indonesia yang sukses menjuarai lomba dikancah Internasional. Sayangnya mereka kurang terkenal, kurang mendapat apresiasi dari masyarakat. Anak-anak yang membawa harum nama Indonesia itu kalah dengan anak-anak yang menang lomba kontes menyanyi dan kontes kecantikan. 

Padahal jebolan anak-anak kontes tersebut kelakukannya ketika diatas panggung cukup buruk. Bayangkan saja, mereka dipaksa meniru artis-artis dewasa yang notabene berpakaian tapi sebetulnya seperti tidak berpakaian. Tingkah polah mereka menjadi tidak beradap karena terlalu centil, genit dan alay. Sepertinya memang benar jika kebodohan lebih dihargai di Indonesia. Jika ingin terkenal, bertingkah bodoh saja.

Pro Anak 
Peran orang tua dan guru dituntut lebih hyperaktif dalam kasus ini. Beliau-beliau harus tahu potensi anak yang sebenarnya. Setiap anak memiliki potensi masing-masing. Orang tua dan guru diharapkan mengawal terus tumbuh kembang anak. Jika anak berbuat salah, jangan langsung dimarahi. Beri mereka arahan dan bimbingan dengan tidak terkesan menggurui. Karena sesungguhnya orang tua dan guru mempunyai fungsi ganda, yaitu sebagai teman.
Presiden terpilih dituntut tidak hanya pro buruh, pro rakyat melainkan juga pro anak. Jika anak memiliki daya kritis diatas rata-rata, pasti mereka berdemo menuntut contoh yang baik. Anak sedang mengalamai krisis suri tauladan akut. 

Setiap harinya dijejali acara-acara yang justru membodohkan mereka. Membuat mereka men Tuhankan kebodohan dari pada kepintaran. Membuat mereka men Tuhankan kontroversi dibanding prestasi. Jadi jangan salahkan anak-anak Indonesia jika kelakuan mereka kurang baik. Mental mereka bukan penjuang melainkan pecundang. 
Anak-anak Indonesia memang belum sepenuhnya merdeka. Meraka dijajah musuh dalam selimut. Dimana penjajahnya adalah orang dewasa itu sendiri. Mari tengok acara tv, begitu mudahnya orang dewasa itu mendapatkan uang dengan melakukan kebodohan, berdandan aneh, bertingkah konyol. Apa saja akan mereka lakukan, asalkan mendapat uang. 

Si anak yang menonton acara tersebut senyum-senyum mencerna racun yang orang dewasa sebarkan. Ketika kebodohan menjadi Tuhan, harga diri digadaikan, ketika kebodohan menjadi Tuhan, nasib bangsa terabaikan, dan jika kebodohan menjadi Tuhan, tunggulah kehancuran.

Baca Juga:
Menuju Mudik Sejati
Kembalikan Citra Guru

Aku Menjadi Kita

Penulis: Fajar Ariyanto

Diri Kita Adalah Penjajah

HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh pada (Minggu, 17/8) kemarin disambut suka cita oleh seluruh lapisan masyarakat. Antusisme masyarakat ditunjukan dengan memasang bendera dan beragam lomba yang bertujuan untuk mempereret kebhinekaan. Ditengah hingar bingar dan suka cita rakyat Indonesia ada beberapa masalah yang patut dikritisi. Masalah ini sebenarnya sudah meradang beberapa tahun yang lalu. Yaitu hilangnya roh keteladanan bagi pemuda Indonesia. Suri tauladan menjadi langka pasca 69 tahun yang lalu.

HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh pada (Minggu, 17/8) kemarin disambut suka cita oleh seluruh lapisan masyarakat. Antusisme masyarakat ditunjukan dengan memasang bendera dan beragam lomba yang bertujuan untuk mempereret kebhinekaan. Ditengah hingar bingar dan suka cita rakyat Indonesia ada beberapa masalah yang patut dikritisi. Masalah ini sebenarnya sudah meradang beberapa tahun yang lalu. Yaitu hilangnya roh keteladanan bagi pemuda Indonesia. Suri tauladan menjadi langka pasca 69 tahun yang lalu.

Memberi keteladanan bukan hanya tugas orang tua. Melainkan tugas semua makhluk yang bergelar manusia. Untuk itu marilah kita salahkan diri kita sendiri yang belum bisa berbuat banyak terhadap bangsa dan Negara ini. Jika muhasabah sudah dilakukan akan lebih mudah kita mencari musababnya, musabab mengapa pemuda Indonesia tidak maju-maju. Beberapa hal berikut mungkin bisa menjadi referensinya. Pertama, kurangnya rasa memiliki terhadap Indonesia. Kedua, cenderung mengikuti budaya asing. Selanjutnya, menginginkan perubahan, namun enggan berubah. Terakhir mentalitas pemuda.


Baca Juga:


Kurangnya rasa memiliki terhadap tanah air tercinta ini memang bukan rahasia umum lagi. Kita seolah apatis dengan masalah yang terjadi di Indonesia. Banyaknya kasus, terutama kasus korupsi adalah penyebab utamanya. Sebagai warga Negara yang baik, melihat masalah sebaiknya ditinjau dari berbagai sudut pandang. Misalnya saja dalam kasus korupsi yang ada dipemerintahan Pak SBY. Memang, dari satu sisi pemerintahan tersebut banyak petinggi negeri yang korup. Tapi disisi lain, Pak SBY sudah memuhi janjinya jika terpilih lagi menjadi presiden , yaitu pemberantasan korupsi tanpa pandang bulu. Kebohongan memang manis dan kejujuran memang pahit. Meski begitu Pak SBY sabar menghadapi rakyatnya.
Kurangnya rasa cinta terhadap Indonesia melahirkan kecintaan terhadap bangsa lain, seperti budaya dan produknya. Kecederungan terhadap asing ini sangat terlihat diberbagai sektor. Yang paling terlihat adalah fashion. Pemuda Indonesia lebih tertarik menggunakan produk luar dari pada produk bangsa sendiri. Jika sudah menggunakan produk luar, mau tidak mau juga akan ikut budayanya juga. Sebagai contoh dalam fenomena K-Pop. K-Pop bukanlah budaya kita tapi sangat digandrungi, lebih dari kecintaannya terhadap pakaian adat. Padahal kita punya pakaian adat yang jelas-jelas bisa membedakan mana pria dan mana wanita.
Jika kedua hal itu sudah menjamur dan pemuda sudah bosan, biasanya mereka berkoar-koar menginginkan perubahan. Parahnya, pemerintah yang disalahkan atas ketikamajuan hidup mereka. Caranya menginginkan perubahan pun beragam mulai dari berdemo hingga merusak fasilitas umum. Contoh-contoh buruk semacam inilah yang menyebabkan generasi berikutnya ikut-ikutan. Remaja SMP dan SMA menangkap bahwa tindakan semacam itu adalah tindakan seorang naionalisme sejati. Bagi mereka nasionalisme adalah kekerasan. Nasionalisme adalah melawan pemerintahan.
Bagitulah mental pemuda Indonesia sekarang. Seenaknya sendiri namun minta disantuni. Hidup sejahtera sesuai hawa nafsunya. Tidak heran jika wajah Indonesia seperti sekarang ini. tidak punya daya saing dengan dengan bangsa lain. Sekalinya ada, kurang terkenal. Kalah saing dengan selebritis pembuat kontroversi. Karena hal bodoh semacam itulah banyak pemuda yang banting stir menjadi selebritis. Karena menjadi selebritis kebodohan mereka lebih diakui. Bukan hanya diakui melainkan dihargai, dipuja-puja dan juga banyak uang. Kalah terkenal dengan Nelson Tansu Lemas, Khoiril Anwar dan Muhammad Arif Budiman.
Kesmimpulan sederhana dari masalah diatas adalah bangsa kita dijajah oleh diri kita sendiri. Yang membuat Indonesia masih terjajah padahal sudah merdeka adalah rakyatnya sendiri. Diri kita adalah penjajah ulung, lebih ulung dari Belanda dan Jepang. Karena metode dan strategi penjajahan terkesan nikmat hingga kita sendiri tidak sadar kalau sedang di jajah. Memang benar sabda Rosululloh, jika jihat terbesar adalah melawan diri sendiri.

Aku Menjadi Kita

Hari raya Idul Adha membawa berkah dan hikmah bagi yang merayakan. Membawa berkah karena untuk warga ndeso seperti saya ini bisa makan daging sepuasnya. Serta hikmah, karena jika ditijau dari beberapa sudut, sungguh hari Raya Kurban terkandung banyak sekali pelajaran terutama bagi para birokrasi dan politisi. Jiwa ke-aku-aku-an mereka belakangan ini semakin terlihat belakangan ini. yang sedang hangat tentu saja pada pemilihan Ketua DPR dan MPR.

ari raya Idul Adha membawa berkah dan hikmah bagi yang merayakan. Membawa berkah karena untuk warga ndeso seperti saya ini bisa makan daging sepuasnya. Serta hikmah, karena jika ditijau dari beberapa sudut, sungguh hari Raya Kurban terkandung banyak sekali pelajaran terutama bagi para birokrasi dan politisi. Jiwa ke-aku-aku-an mereka belakangan ini semakin terlihat belakangan ini. yang sedang hangat tentu saja pada pemilihan Ketua DPR dan MPR.

Jauh berabat-abat yang lalu “kurban sejati” sudah diteladankan oleh Nabi Ibrahim As. Manakala beliau menanti-nanti putra pertamanya selama berpuluh-puluh tahun yang bernama Ismail, dengan hak prerogratifnya Alloh, Dia menyuruh Sang Nabi untuk menyemb3lihnya. Perintah itu pastiah bukan tanpa alasan. 

Pasalnya saat itu kasih sayang Ibrahim kepada putranya amatlah besar. Tentu saja Alloh tidak akan membiarkan hal semacam itu terjadi. Karena terlalu mencintai sesuatu yang bersifat fana tidak dibenarkan oleh Nya. Pada akhir cerita Alloh akhirnya tidak sampai hati melihat Ibrahim terisak-isak dan Dia menggantinya dengan kambing.
Jika kita menganalogikan kisah tersebut dengan jaman sekarang, umpama kita adalah Ibrahim, Ismail adalah harta dan tahta, sedangkan kambing adalah kebahagiaan betapa beruntungnya kita punya Alloh. Banyak dari kita yang pontang-panting kerja untuk mencari harta dengan berbagai alasan. Dan kebanyaka orang alasanya untuk hidup senang, kemudian mereka mendapatkannya. 

Dengan uang mereka merealisasikan alasannya tanpa memperdulikan siapa Sang Maha Pemberi harta. Tentu saja Alloh Cemburu, lebih jauh lagi mungkin tersinggung karena hampir disetarakan derajatnya oleh harta. Maka dari itu Alloh memperingatkan manusia dengan berbagai masalah dan ujian yang tidak pernah absen kepada Indonesia ini. parahnya, kecemburuan Alloh disalahartikan sebagai kemarahan yang meledak-ledak dan Alloh sudah pesimis terhadap kita yang bergelar “manusia.”
Seyogyanya kita patut bersyukur. Karena dengan kecemburuanNya kita disayang, karena kecemburuanNya kita masih dipersulahkan untuk untuk bertobat, juga karena kecemburanNya kita masih mendapat signal untuk masuk surga. Sungguh masih terasa aneh jika menafsirkan kecemburuan itu sebagai sebuah amarah. Justru akan terasa lebih aneh jika masalah itu tidak datang, sementara para manusia terus saja berbuat salah. Pertanyaan yang patut disematkan adalah, apakah Alloh masih sayang dan peduli terhadap kita ?.
Mari berlogika dasar, cinta itu membutuhkan pengorbanan. Pengeborbanan disini bisa diartikan merelakan sesuatu yang baik untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Seperti contoh Nabi Ibrahim tadi yang hendak menyemb3lih putra semata wayangnya. Beliau mengorbankan sesuatu yang baik (anaknya) untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik (ridho Alloh).
Andai saja masyarakat Indonesia mempunyai jiwa kurban sejati dalam dirinya, pastilah akan maju Indonesia. Ketika aku bertransformasi menjadi kita, tidak ada lagi perpecahan, tidak ada lagi kekerasan dan tidak ada lagi perebutan kekuasaan. 

Sulit untuk melakukan semua itu ditengah majemuknya rakyat Indonesia dan ditengah banyaknya penganut kapitalisme. Paham kapitaslisme sungguh tidak cocok untuk Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Terbukti dengan makin jauhnya kesenjangan antara si kaya dan si miskin.
Sejalan dengan hal diatas. Sejenak mari renungkan sabda Kanjeng Nabi Muhammad. “Makanlah selagi kalian lapar, dan berhentilah sebelum kenyang.” Jika ditelisik lebih jauh, sabda Nabi bukan saja untuk para pelaku makan. Melainkan juga untuk pelaku pencari harta. 

Lebih jauh lagi menurut Cak Nun, makan direflesikan sebagai mencari harta dan berhenti sebelum kenyang diasumsikan perintah untuk berhenti mencari harta. Mancari harta itu secukupnya saja karena harta tidak dibawa ke alam kekekalan. Harta hanya sebagai alat untuk dekat dengan Alloh. Bukan jauh dari Alloh, apalagi menyetarakannya.
Berkurban memang tidak difatwa wajib. Berkorban hanya kesadaran makhluk yang bernama manusia untuk menjalankan tugas sejati dari-Nya, sebagai kholifah (pemimpin). Kita semua adalah pemimpin, namun alangkah beruntungnya kita karena masih memimpin keluarga, minimal diri sendiri. 

Bagaimana dengan para pemimpin birokrasi kita yang memimpin ratusan ribu orang. Betapa banyak yang harus mereka kurbankan. Mulai dari pikiran, waktu, tenaga dan lain sebagainya. Karena jasa pengorbanan yang luar biasa itu pantaslah jika para pejabat itu menggunakan fasilitas mewah seperti mobil dan rumah yang mana uang itu berasal dari rakyat. 

Penulis: Fajar Arianto

Baca Juga:

Pahlawan Untuk Diri Sendiri

'Pahlawan'. Sebuah kata yang apabila mendengar langsung terpikir pemberani, gagah, kuat dan bermental baja. Kurang tepat rasanya jika dihari Pahlawan hanya kita kenang namun tidak diilhami perjuangannya. Berbagai upaya telah para Pahlawan lakukan untuk negeri ini. 10 Nopember 1945 silam lebih tepatnya. Seorang pemuda luar biasa yang bernama Bung Tomo memporak-porandakan Belanda dan Inggris. Dengan 3 kata yang melegenda. Merdeka atau Mati. Apabila kata itu diucapkan oleh pemuda sekarang lain ceritanya. Mungkin malah akan ditertawakan. Tapi ini Bung Tomo. Dengan segala pengorbanan dan integritas. Didikasinya yang patut diinspirasi generasi penerusnya. 
Pahlawan Untuk Diri Sendiri

Tidaklah usah jauh-jauh. Kita cukup menjadi Pahlawan untuk diri kita sendiri. Seperti kata Rosul, jika perang terbesar adalah perang melawan diri kita sendiri. Bung Tomo pun juga demikian sewaktu berperang melawan penjajah. Beliau tidak serta merta memikirkan dirinya sendiri. Yang ada disetiap kepala beliau adalah Negara. 

Dengan semangat yang luar biasa hebat beliau mengatakan. Merdeka atau Mati. Tiga kata yang membuat semangat jihat bela Negara arek-arek Surabaya memuncak. Nyawapun seperti sudah tidak ada harganya bagi beliau dan kawan-kawannya. Hanya demi merobek bendera biru di Hotel Yamato
Yang perlu digaris bawahi adalah hilangnya jiwa egosentris dalam sanubari para Pahlawan. Padahal itu susah sekali untuk diterapkan. Lantas mengapa mereka bisa menghilangkannya. Padahal kita semua tahu, mereka tidak berpendidikan. Juga tidak makan makanan yang bergizi macam kita ini. Satu hal yang pasti. Mereka merasakan rasa sakit yang sama, merasakan susah dan penderitaan yang sama. 

Akhirnya mereka menumpahkan perasaan itu diwadah yang sama pula, yaitu hati mereka. Disitulah semangat nasioanlisme sejati muncul. Semangat itu pula yang jauh lebih penting dari otak-otak lulusan S1, S2 bahkan Profesor sekalipun.
Satu lagi yang unik dari para Pahlawan adalah kebodohan mereka justru menjadi kekuatan. Mereka mungkin tidak mengenal Undang-Undang, Pancasila, KUHP, yang mereka tahu hanya merdeka. Ketidaktahuan mereka itulah yang membuatnya fokus untuk merebut kemerdekaan ditangan Belanda dan Inggris. 

Dalam kasus ini, diera modern bisa terefleksi oleh orang-orang yang tidak berpendidikan tinggi tapi sukses. Seperti contoh Bu Menteri Susi yang naik daun belakangan ini. Seorang Menteri nyentrik nan pekerja keras itu hanya lulusan SMP. Itu membuktikan jika orang yang berpendidikan minim bisa fokus dalam mengejar impiannya dan yang berpendidikan tinggi namun banyak pikir untuk melangkah belum tentu. Begitu juga Pak Dahlan Iskan yang hanya lulusan Unversitas Kehidupan.
Diera para kapitalis sekarang ini, dasarnya saja sudah roboh yaitu egosentris. Betapa banyak mereka-mereka yang taat kepada nafsu untuk kepentingan perutnya sendiri. Ini pula yang menyebabkan kesenjangan terus saja mengalami peningkatan. 

Masyarakat modern ini tidak lagi menikmati nikmatnya berbagi rasa sakit. Berbagi duka lara untuk dirasakan bersama. Para birokrat mengajarkan betapa kekuasaan adalah Tuhan yang patut kita nomorsatukan. Sidang yang begitu terhormat malah seperti pemilihan ketua kelas Taman Kanak-kanak.
Jiwa yang sudah diliputi ego yang tinggi akan menimbulkan rasa ingin diakui yang tinggi pula. Nah, ini yang bahaya. Banyak orang yang ingin diakui keeksisannya di Dunia ini. Kadang hal itu pula lah yang justru membuat kerusuhan. Seperti contohnya genk motor. Kebanyakan dari pemuda-pemuda itu kurang kasih sayang. Lantaran  itulah mereka menunjukan eksistensi dirinya dengan melakukan tindakan kriminalitas yang berujung perampokan, pengrusakan, dan pencurian. 

Orang macam itulah yang merusak citra pemuda. Kekuatan yang seharusnya dimanfaatkan untuk membela Negara malah justru merusak Negara.
Seperti seyogyanya ulang tahun-ulang tahun lalu. Ulang tahun kali ini semoga menjadi tonggak kebangkitan pemuda untuk menumbuhkan jiwa Pahlawan. Rubah mental yang tadinya bermentak sinetron menjadi patriot. 

Biarkan saja media mengajarkan untuk menjadi pemuda cengeng, lakukan filterisasai untuk menghalau itu semua. Tidak perlu menjadi Bung Karno atau Bung Tomo untuk dikenang sebagai Pahlawan. 

Cukup dengan mempahlawani diri sendiri sudah cukup. Menjadi pribadi yang layak saing. Tidak perlu terlalu pandai yang penting punya tekad dan semangat untuk meraih mimpi. Selamat Hari Pahlawan wahai pemuda. 
Penulis: Fajar Ariyanto

Baca Juga:
2 Sehat 3 Sempurna
Anak Infestasi Utama
Adalah Lelaki Sejati
Menuju Mudik Sejati
Kembalikan Citra Guru

Aku Menjadi Kita
Ketika Kebodohan Menjadi Tuhan

Tawangharjo.com

Iklan Layang